Tampilkan postingan dengan label Penyakit Payudara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penyakit Payudara. Tampilkan semua postingan

Selasa, 22 September 2009

Tubular Carcinoma

hands-around

Rekan semua, masih tentang kanker di saluran susu, satu jenis lain yang akan saya uraikan dalam tulisan ini. Tubular carcinoma, nama yang didasarkan pada bentuk sel kankernya. Apa saja yang rekan semua perlu ketahui? Mari kita simak bersama…

Tubular carcinoma merupakan satu jenis dari kanker payudara invasive ductal carcinoma. Nama tubular diambil dari tampilan mikroskopis, dimana sel kanker berbentuk tabung kecil. Tubular carcinoma cenderung kecil, estrogen-receptor positive, HER2/neu negative. Pada beberapa kasus, sel kanker tubular tercampur dengan sel kanker ductal (di saluran susu) dan lobular (kelenjar susu), yang akan menghasilkan diagnosis tumor gabungan.

Tubular carcinoma atau juga disebut tubular breast cancer, TC, tubulolobular – TLC (jika gabungan dengan kanker lobular – kelanjar susu), terjadi sekitar 2% dari seluruh diagnosis kanker payudara. Pasien penderita tubular carcinoma biasanya berusia 50 tahun ke atas.

Tubular Carcinoma berbeda dengan Payudara Tubular (Tubular Breasts)

Payudara tubular atau tuberous breasts adalah kondisi bawaan lahir payudara (congenital breast condition), dimana payudara tidak berkembang sebagai jaringan kelenjar sebagaimana seharusnya payudara seorang wanita dewasa. Payudara tubular memiliki ciri areola (lingkaran gelap payudara) yang luas, terletak sangat rendah di dinding dada, dan tumbuh dengan kecenderungan melorot.

tubular-breastPayudara tubular (www.adjustablegelimplant.com)

Di Amerika, wanita dengan payudara tubular, biasanya akan terbantu dengan melakukan bedah plastik (plastic surgery) perbaikan bentuk payudara untuk mendapatkan bentuk payudara yang lebih mendekati normal. Jadi, memiliki payudara tubular tidak sama dengan menderita tubular carcinoma.

Tanda dan Gejala

Anda mungkin tidak dapat merasakan benjolan kecil dari tubular carcinoma, tapi akan terlihat jika anda menjalani pemeriksaan mamografi rutin. Jika pada tumor juga terdapat sel invasive ductal cancer, maka anda akan lebih dapat merasakan benjolannya. Ketika sel kanker tubular bergabung dengan lobular breast cancer (tubulolobar), maka gejala yang anda rasakan lebih mengarah sebagaiamana jika anda menderita invasive lobular carcinoma, yaitu adanya area yang mengalami penebalan.

Bagaimana Tubular Carcinoma Didiagnosis

Tubular carcinomas biasanya sangat kecil, namun akan tampak jika diperiksa dengan mammogram. Tampilan tubular carcinoma adalah massa dengan dengan batas-batas meruncing atau bergerigi. Pada hasil dengan USG, tubular carcinoma tampak sebagai massa dengan batas yang kabur dan terjadi kalsifikasi (penumpukan kalsium) di sekitarnya. Pusat tumor terlihat lebih padat dibandingkan area disekitarnya. Biopsi akan diperlukan untuk mengambil contoh jaringan yang kemudianakan diuji secara mikroskopik di laboratorium oleh ahli patologi.

tubular-carcinomaMammogram tubular carcinoma (www.gmrh.ch)

Ukuran Tumor dan Tingkat Kesembuhan

Tubular carcinoma biasanya berukuran kecil, dengan diameter sekitar 1 -2 cm dan tidak menyebar jauh dari titik awal pertumbuhan tumor. Meski mungkin terjadi, namun biasanya tubular carcinoma tidak menyebar lewat simpul limfe dan tidak menyerang simpul limfe, artinya kemungkinan mengganas (metastasis) menjadi lebih kecil. Peluang pulih dan bertahan hidup setelah penanganan tubular carcinoma sangat tinggi.

Penanganan Tubular Carcinoma

Lumpectomy (pembedahan untuk mengangkat tumor kecil dan jaringan di sekitarnya)
Wide Local Excision (WLE) (pembedahan untuk mengangkat tumor yang lebih besar dan setidaknya 1 cm jaringan di sekitarnya)
Radiation therapy (merupakan pilihan)
•Hormonal therapy

Sumber tulisan : www.breastcancer.org dan www.about.breastcancer.com

Paget’s Disease of the Nipple

my-boobies

Rekan semua, pada tulisan ini saya akan menguraikan jenis kanker payudara yang muncul bukan di bagian dalam payudara, namun di kulit payudara khususnya areola dan puting. Anda pernah mendengar Paget-s disease? Yuk, kita simak bersama…

Paget’s disease puting payudara muncul dalam bentuk penyakit kulit eksim (eczematous) yang menyerang areola dan puting. Muncul pada payudara wanita yang biasanya juga penderita invasive intraductal carcinoma. Paget’s disease muncul sekitar 1% - 2% dari seluruh kejadian kanker payudara.

Penyakit ini dimulai dengan timbulnya rasa gatal, serta sensasi seperti ditusuk-tusuk dan terbakar di salah satu puting. Paget’s disease biasanya bersifat unilateral atau hanya terjadi pada salah satu payudara. Area yang terserang eksim kemudian akan menjadi borok, mengerak, dan pecah-pecah, diikuti keluarnya cairan bercampur darah dari puting. Batas borok (luka) jelas sangat terlihat dengan bentuk tak beraturan. Puting akan tertarik ke dalam atau berubah bentuk.

pagetsPaget’s Disease Puting Payudara (www.medscape.com)

Diagnosis Paget’s Disease

Kondisi yang terjadi sering rancu dengan dermatitis, namun penyakit gatal-gatal (pruritus) yang berkaitan dengan dermatitis biasanya akan sembuh dengan pengobatan topical steroid, sedangkan Paget’s disease tidak. Limapuluh persen penderita Paget’s disease memiliki massa di payudara yang dapat diraba/dirasakan keberadaannya. Diagnosis dapat diketahui secara pasti dengan melakukan biopsy kulit yang mengandung sel tipikal Paget.

nippledermatitisDermatitis Puting Payudara (www.visualdxhealth.com)

Penanganan Paget’s Disease Puting Payudara

Radikal mastectomy merupakan penanganan bagi penderita Paget’s disease puting payudara. Tingkat kesembuhan secara umum baik, jika diketahui secara dini. Diperkirakan 98% penderita bertahan hidup 5 tahun setelah mastektomi dilakukan.

radical-mastectomyMastektomi Radikal (www.catalog.nucleusinc.com)

Sumber :
www.medscape.com
www.visualdxhealth.com

Inflammatory Breast Cancer

chinese

Rekan semua, satu lagi jenis kanker payudara yang gejalanya bukan berupa benjolan sebagai mana terjadi pada kanker payudara pada umumnya. jenis kanker payudara ini bersifat menyerang pembuluh getak bening dan menimbulkan peradangan payudara. Apakah kanker ini? Apa gejala dan bagaimana penanganannya? Berikut uraiannya…

Inflammatory breast cancer merupakan bentuk akselerasi atau percepatan kanke payudara yang biasanya tidak terdeteksi oleh mammogram atau USG.

Merupakan jenis kanker payudara yang jarang terjadi, hanya berkisar 1% - 3% dari seluruh kejadian kanker payudara. Penderita akan mengalami pembekakan dan peradangan payudara. Hal ini disebabkan oleh sel kanker yang menyumbat pembuluh limfe (getah bening) yang ada di bawah kulit payudara.

inflammatory2Inflammatory Breast Cancer (www.mayoclinic.com)

Gejala Inflammatory Breast Cancer

Berbeda dengan gejala kanker payudara pada umumnya, inflammatory breast cancer tidak menunjukkan gejala adanya benjolan. Penyakit muncul sebagai sarang atau lapisan yang menutup system limfe atau getah bening di bawah kulit. Kandang gejala yang muncul dianggap sebagai gejala penyakit lain, sehingga diagnosis seringkali membutuhkan waktu yang panjang.

Gejalanya meliputi:

  1. Nyeri payudara. Sering inflammatory breast cancer salah diagnosis dan dianggap sebagai infeksi payudara dan diberikan antibiotik sebagai pengobatannya. Jika selama satu minggu antibiotik tidak berpengaruh, biopsi akan dilakukan.
  2. Perubahan kulit di area payudara. Biasanya berubah menjadi merah atau merah jambu dengan tekstur dan ketebalan seperti kulit jeruk (peau d’orange).
  3. Memar payudara yang berlangsung terus menerus.
  4. Pembengkakan payudara secara tiba-tiba.
  5. Rasa gatal pada payudara.
  6. Puting tertarik ke dalam dan mengeluarkan cairan.
  7. Pembekakan simpul limfe di bawah ketiak atau di leher.
inflammatoryPerkembangan Inflammatory Breast Cancer dalam 4 bulan

Penanganan Inflammatory Breast Cancer

Inflammatory breast cancer adalah kanker agresif yang dapat menyebar secara cepat. Penanganannya meliputi:

  1. Pembedahan. Jika inflammatory breast cancer belum menyebar, mastektomi dapat dilakukan untuk mengangkat tumor. Namun perlu diketahui bahwa mastektomi akan meningkatkan peluang kembalinya kanker jenis ini karena inflammatory breast cancer terkait dengan simpul limfe di kulit dan kulit dijahit kembali setelah operasi pembedahan.
  2. Kemoterapi. Sering diberikan sebelum pembedahan atau disebut neoadjuvant therapy untuk mengurangi jumlah tumor yang ada serta mengurangi risiko kambuhnya kanker.
  3. Kemoterapi Dosis Tinggi/ Transplantasi Sumsum Tulang. Peneliti mempelajari pemberian kemoterapi dosis tinggi yang diikuti transplantasi sumsum tulang atau sel inti (bone marrow or stem cell transplantation) untuk menangani inflammatory breast cancer.
  4. Radiasi. Seringkali radiasi diberikan setelah kemoterapi dan atau pembedahan

Sumber: www.medicinenet.com

Faktor Risiko Kanker Payudara

pegang2-tetek

Rekan semua, kanker payudara memiliki potensi muncul khususnya pada wanita yang memiliki faktor risiko tertentu. Apakah sajakah itu? Berikut tulisannya…

Faktor risiko menurut Moningkey dan Kodim, penyebab spesifik kanker payudara masih belum diketahui, tetapi terdapat banyak faktor yang diperkirakan mempunyai pengaruh terhadap terjadinya kanker payudara diantaranya:

1. Faktor reproduksi
Karakteristik reproduktif yang berhubungan dengan risiko terjadinya kanker payudara adalah nuliparitas, menarche pada umur muda, menopause pada umur lebih tua, dan kehamilan pertama pada umur tua. Risiko utama kanker payudara adalah bertambahnya umur. Diperkirakan, periode antara terjadinya haid pertama dengan umur saat kehamilan pertama merupakan window of initiation perkembangan kanker payudara. Secara anatomi dan fungsional, payudara akan mengalami atrofi dengan bertambahnya umur. Kurang dari 25% kanker payudara terjadi pada masa sebelum menopause sehingga diperkirakan awal terjadinya tumor terjadi jauh sebelum terjadinya perubahan klinis.

2. Penggunaan hormon
Hormon estrogen berhubungan dengan terjadinya kanker payudara. Laporan dari Harvard School of Public Health menyatakan bahwa terdapat peningkatan kanker payudara yang bermakna pada para pengguna terapi estrogen replacement. Suatu metaanalisis menyatakan bahwa walaupun tidak terdapat risiko kanker payudara pada pengguna kontrasepsi oral, wanita yang menggunakan obat ini untuk waktu yang lama mempunyai risiko tinggi untuk mengalami kanker ini sebelum menopause.

3. Penyakit fibrokistik
Pada wanita dengan adenosis, fibroadenoma, dan fibrosis, tidak ada peningkatan risiko terjadinya kanker payudara. Pada hiperplasis dan papiloma, risiko sedikit meningkat 1,5 sampai 2 kali. Sedangkan pada hiperplasia atipik, risiko meningkat hingga 5 kali.

4. Obesitas
Terdapat hubungan yang positif antara berat badan dan bentuk tubuh dengan kanker payudara pada wanita pasca menopause. Variasi terhadap kekerapan kanker ini di negara-negara Barat dan bukan Barat serta perubahan kekerapan sesudah migrasi menunjukkan bahwa terdapat pengaruh diet terhadap terjadinya keganasan ini.

5. Konsumsi lemak
Konsumsi lemak diperkirakan sebagai suatu faktor risiko terjadinya kanker payudara. Willet dkk., melakukan studi prospektif selama 8 tahun tentang konsumsi lemak dan serat dalam hubungannya dengan risiko kanker payudara pada wanita umur 34 sampai 59 tahun.

6. Radiasi
Eksposur dengan radiasi ionisasi selama atau sesudah pubertas meningkatkan terjadinya risiko kanker payudara. Dari beberapa penelitian yang dilakukan disimpulkan bahwa risiko kanker radiasi berhubungan secara linier dengan dosis dan umur saat terjadinya eksposur.

7. Riwayat keluarga dan faktor genetik
Riwayat keluarga merupakan komponen yang penting dalam riwayat penderita yang akan dilaksanakan skrining untuk kanker payudara. Terdapat peningkatan risiko keganasan ini pada wanita yang keluarganya menderita kanker payudara. Pada studi genetik ditemukan bahwa kanker payudara berhubungan dengan gen tertentu. Apabila terdapat BRCA 1, yaitu suatu gen suseptibilitas kanker payudara, probabilitas untuk terjadi kanker payudara sebesar 60% pada umur 50 tahun dan sebesar 85% pada umur 70 tahun.

Badan kesehatan dunia (WHO) menyebutkan 8-9 persen wanita akan mengalami kanker payudara dalam hidupnya. Kanker payudara bisa disebabkan oleh banyak hal, walaupun sebenarnya penyebab kanker hanya bersandar pada faktor risiko saja, penyebab langsungnya belum diketahui pasti. Meski begitu, dengan menjauhi faktor risikonya, risiko terkena kanker pun berkurang.

Para ahli kanker dunia baru-baru ini menerbitkan laporan mengenai penyebab dan pencegahan kanker dalam buku berjudul Food, Nutrition, Physical Activity, and the Prevention of Cancer: A Global Perspective.

Untuk kanker payudara, antara lain disebutkan ukuran bayi saat dilahirkan ikut berpengaruh pada risiko kanker payudara. Hal ini antara lain karena penumpukan lemak tubuh sudah terjadi sejak seseorang dilahirkan. Para ahli berpendapat lemak yang menumpuk akan mempengaruhi hormon yang pada akhirnya membuat sel-sel tumbuh menjadi tidak normal dan menjadi kanker.

Faktor lainnya adalah periode menstruasi, yakni mendapat menstruasi pertama lebih awal (kurang dari 11 tahun) atau terlambat memasuki menopause (di atas usia 60 tahun). Wanita yang mengalami kondisi itu akan mempunyai paparan hormon reproduksi estrogen lebih lama dalam hidupnya sehingga potensi tumbuhnya kanker juga lebih besar

Faktor yang juga meningkatkan risiko untuk kanker nomor dua terbanyak diderita wanita Indonesia ini antara lain faktor keturunan, usia yang makin bertambah, tidak memiliki anak, serta kehamilan pertama di atas 30 tahun.

Bagi wanita yang memiliki faktor risiko di atas memang perlu waspada, antara lain dengan melakukan pemeriksaan kesehatan secara teratur. Pemeriksaan secara rutin tahap awal bisa dilakukan sendiri di rumah. Caranya dengan meraba payudara dan daerah di bawah ketiak untuk menemukan benjolan. Kanker payudara juga bisa dideteksi dengan USG dan mamografi untuk wanita yang berusia 35 tahun ke atas.

Dalam laporan tersebut juga disebutkan, jika dikelola dengan baik sebenarnya kita bisa mengurangi risiko kanker payudara. Misalnya dengan menjalankan gaya hidup sehat, misalnya rutin berolahraga, menjauhi rokok dan alkohol, serta makanan berlemak. Menyusui juga direkomendasikan untuk mengurangi risiko munculnya kanker payudara.

Sumber: Wikipedia dan Kompas Cyber

Mastalgia atau Nyeri Payudara

ngelirik-ke-bawah

Apa itu mastalgia? Mastalgia adalah kondisi dimana payudara merasa nyeri. Sebenarnya mastalgia ini akrab dengan setiap wanita, karena selalu datang mengiringi waktu menstruasi. Berikut definisi, penyebab, diagnosa dan pengobatannya. Yuk, kita simak bersama….

DEFINISI
Mastalgia adalah nyeri payudara.
Nyeri payudara dibagi ke dalam 2 kelompok:
1.Mastalgia siklik : berhubungan dengan menstruasi
2.Mastalgia non-siklik : tidak berhubungan dengan menstruasi dan bisa berasal dari payudara maupun struktur di sekitar payudara (misalnya otot atau persendian).

PENYEBAB
Jenis mastalgia yang paling sering ditemukan adalah mastalgia siklik yang terjadi akibat perubahan hormonal.
Beberapa wanita merasakan nyeri payudara di sekitar masa ovulasi (pelepasan sel telur) yang terus berlanjut sampai masa menstruasi tiba.
Nyeri bisa hanya dirasakan di salah satu payudara atau bisa juga menjalar ke ketiak.

Nyeri pada mastalgia non-siklik biasanya terus menerus ada dan hanya pada lokasi tertentu di payudara. Penyebabnya bisa berupa:

  1. Cedera atau benturan pada payudara
  2. Nyeri artritik di dalam rongga dada dan leher yang menjalar ke payudara
  3. Kehamilan
  4. Menyusui
  5. Menjelang menopause
  6. Terapi estrogen
  7. Infeksi payudara
  8. Menjelang pubertas
  9. Obat-obatan (misalnya digitalis, aldomet, aldakton, anadrol dan klorpromazin)
  10. Alkoholik disertai kerusakan hati
  11. Zat tertentu di dalam makanan atau minuman (misalnya metilsantin yang terkandung di dalam kopi)
  12. Kanker payudara (tetapi tidak setiap nyeri pada payudara merupakan pertanda dari kanker payudara).

GEJALA
Payudara terasa nyeri atau nyeri timbul bila payudara ditekan.
Nyeri bisa dirasakan pada salah satu ataupun kedua payudara, nyerinya bisa menyebar atau terlokalisir.

DIAGNOSA
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik.
Jika pada pemeriksaan payudara ditemukan adanya benjolan, maka dilakukan pemeriksaan berikut:

  1. Mammogram
  2. USG payudara
  3. Biopsi jaringan payudara.

PENGOBATAN
Mastalgia siklik

  1. Diuretik (obat untuk mengeluarkan air seni)
  2. EPO (evening primrose oil, dosis 3 gram/hari)
  3. EPO mengandung asam lemak tak jenuh ganda dan bisa menormalkan kandungan asam lemak pada penderita mastalgia siklik.
  4. Pil KB
  5. Progesteron
  6. Tamoxifen
  7. Tamoxifen adalah suatu anti estrogen yang digunakan untuk mengobati atau mencegah kanker payudara. Obat ini efektif dalam mengurangi mastalgia.
  8. Viteks (Vitex agnus-castus, dosis 40 mg/hari)
  9. Viteks dapat menyeimbangkan kadar hormon pada penderita mastalgia siklik dan sindroma premenstruasi.
  10. Obat lainnya yang juga digunakan adalah danazol dan bromocriptine.

Pengobatan untuk mastalgia non-siklik tergantung kepada penyebabnya.
Cedera pada permukaan payudara yang menunjukkan adanya infeksi diobati dengan antibiotik.

Untuk kedua jenis mastalgia payudara ada tips yang dapat anda lakukan:

  1. Gunakan BH yang nyaman dan pas. Hal ini sangat penting jika penderita melakukan olah raga berat. BH yang pas bisa mengurangi nyeri secara drastis.
  2. Kurangi asupan lemak jenuh dan garam
  3. Vitamin E (400-800 unit/hari)
  4. Kurangi asupan kopi, teh dan coklat
  5. Obat pereda nyeri yang dijual bebas.

Kebanyakan nyeri bersifat ringan dan menghilang dengan sendirinya dalam waktu beberapa bulan atau tahun.

Sumber: medicacare.com

Senin, 21 September 2009

Mucinous Carcinoma of the Breast

Mucinous Carcinoma of the Breast

March 31st, 2009

shoulderRekan semua, saya lanjutkan kembali tulisan mengenai satu jenis lain dari kanker payudara yang berkategori ductal carcinoma, kanker yang muncul di saluran susu. Apa saja gejalanya? Bagaimana penanganannya? Berikut uraian singkatnya…

Mucinous carcinoma payudara — atau kadang juga disebut colloid carcinoma – merupakan satu bentuk dari invasive ductal carcinoma, seperti juga medullary carcinoma yang saya uraikan sebelumnya. Mucinous carcinoma terjadi 2-3% dari seluruh kejadian kanker payudara.

Mucinous (colloid) carcinoma merupakan salah satu tipe kanker payudara invasive yang terbentuk atas sel kanker dalam payudara yang memproduksi cairan/lendir/mukus/mucous. Cairan atau lendir ini mengandung sel kanker payudara yang secara mudah dapat dibedakan dari sel normal dan sehat ketika diperiksa di bawah mikroskop.

Cairan atau mucous dan sel kanker bersama-sama membentuk tumor seperti jelly. Kebanyakan payudara dengan mucinous carcinoma dalam kondisi estrogen-receptor positive dan HER2/neu negative. Kanker payudara jenis ini jarang menyebar ke simpul limfe (getah bening)

Kanker yang temasuk jarang terjadi ini sering rancu dengan kondisi ketidaknormalan mucinous yang disebut “mucocele-like tumor (MLT),” yang biasanya dibarengi terjadinya atypical ductal hyperplasia (ADH) atau ductal carcinoma in situ (DCIS). Untuk memastikan keduanya, diagnosis mucinous carcinoma dan mucocele-like tumor dilakukan dengan biopsy dan uji patologi mendalam.

Tanda dan Gejala Mucinous Carcinoma:

Tumor mucinous carcinoma di payudara akan dirasakan seperti balon air atau mirip dengan kista yang berisi cairan (bukan minyak). Tumor yang masih kecil, agak susah dideteksi dengan jari tangan, tetapi tumor yang lebih besar dapat diketahui dengan memencet jaringan payudara di sekitarnya. Selama anda melakukan pemeriksaan payudara dengan memijat payudara, ada akan merasakan adanya area yang tebal, sulit ditekan, berbada dengan area lain yang lebih lembut. Jika hal ini anda temukan, sebaiknya segeralah ke dokter.

Pemeriksaan dan Diagnosis Mucinous Carcinoma:

Mammogram dan MRI– Mucinous carcinoma pada payudara akan terlihat pada mammogram dan hasil MRI sebagai massa dengan batas-batas yang jelas, memiliki bentuk benjolan. Terkadang dapat terlihat sebagai tumor jinak.

mri-mucinousHasil MRI Mucinous Carcinoma (www.gfmer.ch)

Breast ultrasound – Kurang dari separuh kejadian mucinous carcinomas tertangkap pemeriksaan dengan breast ultrasound (USG), karena tumor yang lebih kecil cenderung bersembunyi di balik jaringan lemak payudara.
Open surgical biopsy – Contoh jaringan tumor akan diambil dan diuji secara spesifik karakteristiknya di laboratorium.

Tingkat Kesembuhan Penderita Mucinous Carcinoma:

Mucinous carcinoma payudara biasanya terjadi pada wanita usia lanjut (48-82 tahun) dan termasuk tipe kanker payudara dengan tingkat perkembangan sel masuk dalam golongan menengah sampai lemah (medium- to- low-grade slow-growing type of breast cancer).

Karena dikategarikan bukan kanker agresif, maka jika anda didiagnosis menderita mucinous carcinoma, tingkat kesembuhan dan peluang bertahan hidup anda akan lebih baik dibandingkan dengan jika terkena kanker payudara invasif lainnya. Sebuah penelitian telah dilakukan di Australia bagian Barat, dan ditemukan bahwa hampir semua kasus mucinous carcinoma tidak memperlihatkan penyebaran ke simpul limfe ataupun bagian tubuh lainnya.

Penanganan Mucinous Carcinoma:

Mucinous carcinoma harus ditangani dengan baik untuk mencegah kembalinya kanker tersebut. Penanganan tersebut meliputi:
•Lumpectomy (pembedahan untuk mengangkat tumor dan jaringan payudara disekitarnya )
•Mastectomy (pembedahan untuk mengangkat seluruh jaringan payudara)

mastectomywww.revolutionhealth.com

•Radiation
•Hormone Therapy (untuk kanker dengan sensitifitas hormonal)

Sumber: American Cancer Society

Tumor Phyllodes-Meski Jarang Wajib Diwaspadai

breast-massage5

Rekan semua, pada artikel ini saya akan membahas mengenai satu tipe tumor payudara yang jarang terjadi. Phyllodes-nama tumor payudara itu-tingkat kejadiannya sangat kecil kurang dari 1% dari seluruh kejadian kanker payudara.

Namun demikain harus tetap diwaspadai karena tumor ini pun berpotensi untuk menjadi ganas. Apa itu tumor phyllodes? Apa tanda-tandanya? Juga bagaimana cara deteksi dan penanganannya? Berikut tulisan saya tentang hal ini…

Tumor Phylllodes merupakan tipe tumor payudara yang sangat jarang terjadi. Tumor ini dapat bersifat jinak (harmless), namun juga bisa ganas (cancerous). Tipe tumor ini disebut “sarcoma” karena lebih sering muncul pada jaringan konektif (stroma) dibandingkan jaringan epilithial (saluran dan kantong susu) payudara. Nama phyllodes diambil dari bahasa Yunani “phullon” yang berarti daun karena pola pertumbuhannnya yang berbentuk seperti daun.

Nama lain tumor phyllodes antara lain: phylloides tumor, PT, cystosarcoma phyllodes, cystosarcoma phylloides kadang juga disebut “giant fibroadenomas”

Tanda dan Gejala Tumor Phyllodes:

Tumor phyllodes akan dirasakan sebagai satu benjolan yang kenyal, dengan sisi permukaan halus di dalam jaringan payudara anda. Kulit payudara di atas tumor tersebut dapat berwarna kemerahan dan hangat saat disentuh.

Tipe tumor ini dapat tumbuh dengan sangat cepat-benjolan dapat tumbuh besar bahkan hanya dalam waktu 2 minggu!

Jangan ditunggu sampai parah begini...

Jangan ditunggu sampai parah begini...

Seringkali tumor phyllodes rancu dengan fibroadenoma. Kedua kondisi ini sering saling keliru. Hampir semua wanita yang didiagnosis penyakit ini merupakan wanita yang telah masuk masa premenopausal (hampir menopause). Namun meski sangat jarang, bukan tidak mungkin seorang gadis terkena tumor jenis ini.

Pemeriksaan dan Diagnosis Tumor Phyllodes:

Pada hasil mammogram, tumor phylodes akan terlihat batas-batasnya dengan jelas. Baik dengan mammogram maupun USG payudara, keduanya menghasilkan citra yang sangat jelas batas-batas tumornya.

hsil Mammogran tumor Phyllodes

Hasil Mammogram Tumor Phyllodes

Tumor payudara ini tidak ditemui di sekitar jaringan payudara yang mengalami mikrokalsifikasi (penumpukan kalsium dalam payudara sehingga membentuk lapisan atau massa yang keras). Sel yang diambil dari needle biopsy dapat diuji di laboratorium. Namun hasilnya sering rancu dengan fibroadenoma.

Untuk diagnosis dan hasil yang lebih pasti, dapat dilakukan biopsy dengan mengambil sample jaringan melalui operasi kecil

Pencitraan MRI dan Pengangkatan Tumor Phyllodes:

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan dokter di Italia, yang membandingkan hasil mammogram, USG dan MRI payudara, diketahui bahwa hasil MRI memberi gambar pencitraan paling akurat dan sangat membantu dokter bedah untuk merencanakan operasi pengangkatan. Meskipun tumor berada dekat dengan otot dinding dada sekalipun, pencitraan MRI memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan mammogram dan USG payudara.

Batas-batas tumornya sangat jelas ya...

Batas-batas tumornya sangat jelas ya...

Stadium Tumor Phyllodes:

Hampir semua kasus kanker payudara diklasifikasikan dari stadium1 sampai 4, namun untuk tumor Phyllodes ini berbeda. Setelah operasi biopsy dilakukan, ahli patologi akan menguji sel sample di laboratorium. Dua karakteristik yang diperhatikan adalah:

  1. kecepatan perkembangbiakan/pembelahan sel
  2. jumlah sel yang bentuknya tidak normal (irregularly shaped cells) dalam jaringan sample.

Berdasar dua kriteria di atas, maka akan dapat ditentukan, apakah tumor tersebut masuk klasifikasi jinak atau ganas. Hampir semua tumor phylodes masuk kategori jinak.

Tingkat Kesembuhan Tumor Phyllodes:

Tingkat kesembuhan penderita tumor Phyllodes setelah operasi pengangkatan sangat bagus. Jika anda berusia 45 tahun atau lebih ada kemungkinan tumor muncul kembali, meskipun sangat kecil. Untuk pasien yang terdiagnosis dengan tumor ganas, tingkat kesembuhannya sangat bervariasi.

Tumor ganas memiliki peluang untuk menjadi kanker, bahkan setelah menjalani operasi. Jika ada sel yang tertinggal, akan menjadi ganas dan menyebar. Tumor ganas berpeluang muncul kembali, meski telah diobati dan dapat menyebar ke paru, tulang, hati, dan dinding dada. Pada beberapa kasus, kelenjar limfe ikut berperan dalam penyebaran sel tumor.

Pengobatan Tumor Phyllodes:

Operasi pengangkatan tumor merupakan penangangan standar. Tumor tipe ini tidak merespon terapi radiasi, kemoterapi, ataupun hormonal dengan baik. Jika tumor secara relatif kecil dan jinak, biasanya akan diangkat dengan operasi lumpectomy. Tumor yang besar akan diangkat dengan operasi mastectomy.

Operasi Phyllodes pada seorang gadis

Operasi Phyllodes pada seorang gadis

Pesan saya, meskipun sangat jarang terjadi, rekan wanita termasuk saya harus tetap mewaspadainya karena faktor kecepatan perkembangbiakan sel tumor yang sangat mengerikan., , ,



Mastitis Payudara (Bagian 1)

merem

Pada tulisan saya waktu yang lalu, saya telah ungkapkan definisi, penyebab, juga pengobatan mastitis atau infeksi payudara. Nah pada tulisan berikut ini saya akan uraikan jenis pertama dari tiga jenis mastitis yang biasa terjadi.

Meskipun kalah populer dengan kanker payudara, mastitis payudara juga wajib dikenali untuk upaya pencegahan karena jika sudah akut, bisa berakibat pengangkatan peyudara. Istilah mastitis payudara
berarti radang pada payudara. Gejalanya bermacam termasuk adanya benjolan di payudara. Banyak hal yang menyebabkan terjadinya radang ini termasuk keberadaan kuman.

Bila diumpamakan, payudara itu bagaikan pohon yang memiliki batang, dahan, dan ranting. Bayangkan saja betapa rumit jaringan pengikat, saluran, dan kelenjar penyusunnya. Oleh sebab itu baik pria atau wanita wajib menjaga bagian tubuh yang satu ini dengan baik untuk menghindari kemungkinan terjadinya mastitis.

Tak hanya Anda pemilik payudara yang harus menjaga kebersihan, pasangan Anda pun mesti menjaga kesehatan mulut, jika ia terbiasa menghisap puting payudara saat berhubungan seks.

Jenis dan Penyebab Mastitis
Ada tiga jenis mastitis yaitu mastitis periductal, mastitis pueperalis, dan mastitis supurativa. Ketiga jenis mastitis ini muncul akibat penyebab yang berbeda dan muncul dalam kondisi yang juga berbeda.

Mastitis periductal biasanya muncul pada wanita di usia menjelang menopause, penyebab utamanya tidak jelas diketahui. Keadaan ini dikenal juga dengan sebutan mamary duct ectasia, yang berarti pelebaran saluran karena adanya penyumbatan pada saluran di payudara.

Menurut dr. Samuel J. Haryono, SpB K Onk dari RS Kanker Dharmais, pada wanita usia 45 tahun ke atas atau pada usia memasuki menopause, beberapa pemicu reaksi peradangan ialah perubahan hormonal dan aktivitas menyusui di masa lalu. Faktor penyebab penyumbatan yang utama ialah jaringan yang mati dan air susu itu sendiri.

Tumpukan jaringan mati dan air susu di saluran payudara ini menyebabkan buntunya saluran dan pada akhirnya malah melebarkan saluran di belakangnya, yang biasanya terletak di belakang puting payudara. Hasil akhirnya ialah reaksi peradangan yang disebut mastitis periductal.

Pada tulisan berikutnya saya akan menguraikan tentang mastitis pueperalis dan mastitis supurativa. Tunggu ya…

Mastitis Payudara (Bagian 2)

wanita-pegang-dada1

Pada tulisan sebelumnya, saya telah paparkan apa itu mastitis payudara serta jenis pertamanya, yaitu mastitis periductal. Pada bagian kedua ini saya akan lanjutkan dengan memaparkan mastitis pueperatis dan mastitis supurativa.

Jenis kedua ialah mastitis pueperalis atau disebut juga lactational mastitis, jenis ini banyak diidap wanita hamil atau menyusui.
Menurut dr. Samuel, sekitar 90 persen penyebab utama mastitis jenis ini ialah akibat kuman yang menginfeksi payudara ibu. Hal ini dikarenakan air susu merupakan media yang subur bagi pengembangbiakan berbagai jenis kuman.

Jenis kuman yang paling umum ditemui pada mastitis jenis ini ialah Staphylococcus aureus, yang bisa ditransmisi ke puting ibu melalui kontak langsung. Ibu yang sedang menyusui, bisa mendapatkan kuman ini dari kontak dengan mulut bayi, tapi bisa juga dilakukan penularan sebaliknya, dari ibu ke bayi melalui plasenta.

“Asal kuman pastinya dari kontak langsung antara puting dengan dunia luar, baik itu dari mulut bayi atau mulut suaminya, apalagi pada orang dengan kesehatan mulut rendah seperti mulut dari pengisap rokok,” tutur dokter spesialis bedah onkologi ini.

Jenis terakhir ialah mastitis supurativa. Mastitis jenis ini ialah yang paling sering ditemui. Mirip dengan jenis sebelumnya, mastitis jenis ini juga disebabkan kuman staphylococcus. Selain itu bisa juga disebabkan oleh jamur, kuman TBC, bahkan sifilis.

Infeksi kuman TBC memerlukan penanganan yang ekstra intensif. Bila penanganan tidak tuntas, bukan mustahil langkah mastektomi/ pengangkatan payudara harus dilakukan. “Kelainan di kelenjar dan saluran payudara bisa menyebar tak terkendali dan bahkan bisa berulang kejadiannya bila penanganan tidak tuntas,” tegas dokter kelahiran Yogyakarta ini.

Nah, rekan semua telah mengetahui bahwa mastitis disebabkan oleh kontak langsung puting payudara dengan kuman atau bakteri penyebab infeksi. Bagaimana kita menjaga kebersihan payudara, merupakan syarat mutlak agar payudara kita tetap sehat dan indah…. ;)

Mastitis Beda dengan Kanker

merem21

Rekan semua, mastitis atau infeksi payudara secara lengkap telah saya ungkap pada beberapa tulisan terdahulu. Seringkali, perubahan fisik payudara yang terjadi, mengarah pada kemiripan gejala munculnya kanker payudara. Padahal seperti saya tulis kemarin, bahwa penyebab mastitis adalah kontak bakteri di lingkungan sekitar dengan puting susu. Nah, apa saja sih yang perlu dicatat sebagai pembeda mastitis dan kanker payudara? Yuk..simak tulisan berikut ini.

Pada dasarnya gejala yang timbul akibat mastitis ialah timbulnya benjolan di payudara. Benjolan/penebalan ini berwarna merah, juga terasa panas dan nyeri. Nyeri yang timbul ialah berupa rasa ‘nyut-nyut’ di daerah payudara, apalagi bila benjolan ini sebagai bisul yang pecah, maka penampilannya jadi mengerikan selain nyeri yang menyertainya.

Rasa nyeri inilah yang merupakan perbedaan mendasar antara mastitis dan kanker payudara. Pada kanker payudara, pada awalnya pengidap tidak akan merasa nyeri sama sekali, melainkan hanya timbul benjolan.

Benjolan yang ada pada mastitis bukan seperti kanker yang bentuknya keras, melainkan berupa penebalan yang berisi cairan. Radang biasanya menyerang salah satu payudara saja, tapi tidak menutup kemungkinan bisa menyebar hingga kedua payudara terinfeksi.

Pada beberapa kondisi, mastitis bisa menyebabkan keluarnya cairan dari daerah puting, cairan ini berwarna putih kekuningan serupa nanah. Lain dengan kanker payudara dimana cairan yang keluar dari puting biasanya merah atau kuning kecoklatan seperti noda darah. Terkadang perasaan seperti puting tertarik juga dialami pengidap.

“Orang terkadang over estimate terhadap mastitis, padahal ini merupakan kasus jinak yang bisa diatasi, justru bila tidak dirasa nyeri itulah yang wajib diwaspadai,” ujar dokter yang hobi melukis ini.

Dilihat dari penyebabnya, mastitis tidak dipengaruhi oleh faktor keturunan, melainkan lebih kepada faktor hormonal dan infeksi. Lain dengan kanker payudara yang dipengaruhi faktor hormonal bahkan faktor keturunan.

Pada mastitis yang disebabkan infeksi kuman, terkadang berkembang menjadi suatu abses/ kumpulan nanah dalam rongga baru di jaringan kelenjar payudara. Nanah ini terbentuk dari kumpulan bakteri, jaringan, dan leukosit baik yang mati ataupun yang hidup. Bahayanya, nanah ini bisa menyebar ke bagian tubuh lain hingga menyebabkan rasa meriang/demam tinggi dan menggigil, keringat banyak, turunnya daya tahan tubuh, bahkan hingga menurunnya kesadaran.

Kalau sudah begini, mau tak mau harus dilakukan penanganan dokter secara seksama. Setelah dilakukan diagnosa, dokter bisa menentukan langkah penyembuhan yang tepat, baik dengan pemberian antibiotik saja atau harus dilakukan tindakan operasi.

Bila ditemukan gejala menetesnya cairan dari putting, maka perlu dilakukan pemeriksaan yang disebut duktografi. Pemeriksaan dilakukan dengan memasukan bahan kontras, dimana akan dilakukan foto di saluran payudara, dengan demikian dapat diketahui adanya sumbatan atau polip pada saluran tersebut. Dalam kasus mastitis periductal, terkadang dilakukan juga langkah biopsi bila disertai massa tumor, minimal untuk menyingkirkan kemungkinan tumor atau kanker.

Sedangkan bila ternyata ditemukan benjolan tersebut diduga suatu abses, apalagi yang mengandung nanah, maka harus dilakukan operasi berupa insisi dan drainase, yaitu operasi penyayatan dan penyaluran nanah. Perlu diingat bahwa operasi pengeluaran nanah ini harus dilakukan pada waktu yang tepat, yaitu pada saat benjolan tersebut melunak / matang agar mudah dikeluarkan.

Langkah operasi diawali dengan pembiusan pasien. Biasanya dilakukan bius lokal saja, tapi bila mastitis disebabkan infeksi kuman, maka dilakukan bius umum pada pasien. Berikutnya, daerah payudara dibersihkan dahulu dengan cairan desinfektan khusus. Setelah itu baru bisa dilakukan penyayatan pada daerah benjolan, pada tahap ini dokter akan mencoba membersihkan radang tersebut secara mekanik debridement .

Kemudian dokter akan melakukan drainase yaitu memberikan saluran khusus yang digunakan untuk mengalirkan nanah yang ada. Bila langkah ini selesai dilakukan, maka operasi yang memakan waktu sekitar ½ -1 jam akan ditutup dengan melakukan penjahitan luka secara situasional.

“Bila radang masih termasuk tahap awal dan belum timbul nanah, maka tidak perlu dilakukan tindakan operasi, cukup dengan pemberian antibiotik saja,” simpul dokter yang pernah bermukim di Amsterdam - Belanda ini.

Pemberian antibiotik dilakukan sesuai dosis. Dosis dan cara pemberian antibiotik ditentukan berdasarkan berat ringannya infeksi dan berat badan seseorang. Perlu diingat, ibu yang sedang menyusui dan dalam masa pengobatan dianjurkan tidak menyusui bayinya.

Dari tulisan di atas, terdapat dua pembeda prinsipil yang dapat kita simpulkan yaitu rasa ‘nyut-nyut’ dan benjolan yang lunak/tidak keras. Namun demikian, jika hal tersebut terjadi, segeralah periksa ke dokter agar cepat diketahui apa yang sesungguhnya terjadi.

Lima Langkah Periksa Payudara Sendiri (Sadari)

mamogram

Rekan semua telah ketahui, salah satu pembunuh terbesar wanita di dunia adalah kanker payudara. Para wanita bisa mencegah terjadi penyakit berbahaya itu dengan mengadakan deteksi awal. Para wanita bisa melakukan pencegahan dengan cara SADARI (pemeriksaan payudara sendiri) atau dalam bahasa Inggris disebut breast self-exam (BSE). Ini penting, karena, 85% benjolan di payudara ditemukan oleh penderita sendiri. Bagaimana caranya? Mari bersama kita belajar…

Pada wanita normal, American Cancer Society menganjurkan wanita yang berusia diatas umur 20 tahun untuk melakukan SADARI setiap tiga bulan. Usia 35-40 tahun melakukan mammografi, di atas 40 tahun melakukan check-up pada dokter ahli, lebih dari 50 tahun check-up rutin dan mammografi setiap tahun. Saat terbaik melakukan mammografi adalah seminggu setelah menstruasi. Caranya dengan meletakkan payudara secara bergantian antara dua lembar alas, kemudian dibuat foto roentgen dari atas ke bawah, lalu dari kiri ke kanan.

Hasil foto ini akan diperiksa oleh dokter ahli radiologi. Benjolan sebesar 0,25 cm sudah dapat terlihat pada mammogram. Cara lain adalah melakukan operasi kecil untuk mengambil contoh jaringan biopsy dari benjolan itu, kemudian diperiksa dengan mikroskop laboratorium patologi anatomi.

Bila diketahui dan dipastikan bahwa benjolan itu adalah kanker, maka payudara harus diangkat seluruhnya untuk menghindari penyebaran ke bagian tubuh lain. Perlu diketahui, sembilan dari sepuluh perempuan menemukan sendiri benjolan di payudaranya. Untuk pencegahan awal, periksalah sendiri setelah masa menstruasi lewat seminggu. Karena payudara membengkak sebelum menstruasi.

Untuk pencegahan sendiri berdirilah di depan cermin dan perhatikan, apakah ada kelainan pada payudara. Biasanya kedua payudara tidak sama, putingnya juga tidak terletak pada ketinggian yang sama. Perhatikan apakah ada terlihat keriput, lekukan, atau puting susu tertarik ke dalam. Bila terdapat kelainan dengan keluarnya cairan atau darah pada puting susu, segeralah pergi ke dokter. Bisa juga anda lakukan pemeriksaan dengan letakkan kedua lengan di atas kepala. Perhatikan kedua payudara, lalu bungkukkan hingga payudara tergantung ke bawah, lalu periksa lagi.

Selain itu, bisa periksa lagi dengan berbaring di tempat tidur. Letakkan tangan kiri di belakang kepala dan sebuah bantal di bawah bahu kiri. Raba payudara kiri dengan telapak jari-jari kanan. Periksalah, apakah ada benjolan pada payudara anda.

Kemudian periksa juga, apakah ada benjolan atau pembengkakan pada ketiak kiri. Bisa periksa lagi dengan meraba puting susu dan sekitarnya. Umumnya, kelenjar susu bila diraba dengan telapak jari tangan akan terasa kenyal dan mudah digerakkan. Bila ada tumor, maka akan terasa keras dan tidak dapat digerakkan (tidak dapat pindah dari tempatnya).

SADARI (Periksa Payudara Sendiri)

Lakukan hal yang sama untuk payudara dan ketiak kanan. Bila terasa beonjolan sebesar 1 cm atau lebih, segera pergi ke dokter. Makin dini penanganan, makin besar kemungkinan sembuh dengan sempurna.

Langkah 1: Mulai dengan melihat payudara anda di cermin dengan posisi pundak tegap dan kedua tangan di pinggang.

breast_self_exam15b25d_tcm8-78522Langkah 1. Bercermin dengan kedua tangan di pinggang

Anda harus melihat:

  • Payudara, dari ukuran, bentuk, dan warna yang biasa anda ketahui.
  • Payudara denganbentuk sempurna tanpa perubahan bentuk dan pembengkakan.

Jika anda melihat perubahan berikut ini, segera anda ke dokter untuk berkonsultasi :

  • Kulit mengkerut, terjadi lipatan, ada tonjolan.
  • Puting berubah posisi biasanya seperti tertarik ke dalam.
  • Kemerahan, nyeri, ruam-ruam, atau bengkak.

Langkah 2: Sekarang, angkat tangan anda dan amati jika ada perubahan-perubahan yang telah disebut pada langkah pertama.

breast_self_exam25b25d_tcm8-78525Langkah 2. Angkat kedua tangan cermati setiap perubahan pada payudara

Langkah 3: Saat anda bercermin, anda cermati apakah ada cairan yang keluar dari kedua putting (baik itu cairan bening, seperti susu, berwarna kuning, atau bercampur darah).

breast-examn-nipplesLangkah 3. Pencet puting, perhatikan cairan yang keluar

Langkah 4: Berikutnya, rasakan payudara anda dengan cara berbaring. Gunakan tangan kanan untuk merasakan payudara kiri, begitu sebaliknya. Gunakan pijatan pelan namun mantap (tapi bukan keras) dengan tiga ujung anda (telunjuk, tengah, dan manis). Jaga posisi ujung jari datar terhadap permukaan payudara. Gunakan gerakan memutar, sekali putaran mencakup seperempat bagian payudara.

breast_self_exam35b25d_tcm8-78528Langkah 4. Pijatlah payudara sambil berbaring

Pijat seluruh payudara anda dari atas sampai bawah, kiri kanan, dari tulang pundak sampai bagian atas perut dan dari ketiak sampai belahan payudara.
Buatlah pola memutar untuk memastikan anda sudah memijat seluruh payudara anda. Mulai dari putting, buat gerakan memutar semakin lama semakin besar sampai anda mencapai bagian tepi payudara.

Anda juga dapat membuat gerak naik turun. Gerakan ini bagi sebagian besar wanita diangap lebih efektif. Pastikan anda merakan seluruh jaringan payudaradari depan (puting) sampai bagian belakang. Gunakan pijatan ringan untuk kulit dan jaringan tepat dibawah kulit, pijatan sedang untuk bagian tengah payudara, dan pijatan kuat untuk jaringan bagian dalam. Saat anda mencapai jaringan bagian dalam, anda harus dapat merasakan tulang iga anda.

Langkah 5: Terakhir, rasakan payudara anda saat anda berdiri atau duduk. Atau saat anda mandi karena bagi sebagian wanita, mereka merasa lebih mudah memijat saat kulit payudara dalam keadaan basah dan licin. Lakukan dengan gerakan yang sama seperti dijelaskan dalam langkah 4.

breast_self_exam45b25d_tcm8-78531Langkah 5. Pijatlah payudara saat mandi

Rekan semua, kini kita bersam telah ketahui bagaimana cara mengetahui kanker payudara secara mandiri sejak dini. Bersama kita berharap kita senantiasa mengetahui setiap perubahan pada payudara kita sejak dini.

Mendeteksi Kanker dengan Ductography

mamo-secondpose

Rekan semua, kita telah ketahui bahwa salah satu tanda kanker payudara adalah keluarnya cairan dari puting. Puting, memiliki sekitar 15 sampai 20 lubang ASI dan cairan tersebut keluar dari salah satunya. Bagaimana kita dapat mengetahui saluran susu dan lubang puting mana yang bermasalah? Berikut tulisannya…

Ductography (juga disebut galactography) adalah satu tipe khusus dari pencitraan mamography yang dibuat kontras untuk memperlihatkan saluran air susu yang ada di dalam payudara. Ductography dapat membantu dalam mendiagnosis penyebab keluarnya cairan dari puting (nipple discharge) dan sangat baik untuk mendiagnosis intraductal papilloma dan kondisi abnormal lainnya. Papiloma adalah tumor non-kanker yang bentuknya seperti kutil dan memiliki akar dan cabang yang tumbuh di dalam saluran air susu. Papiloma merupakan penyebab paling umum terjadinya nipple discharge.

Pengeluaran cairan dari puting dapat disebabkan tumor non kanker (seperti papiloma) atau tumor kanker (seperti ductal acarcinoma in situ –DCIS). Namun bagaimanapun, mayoritas nipple discharge diakibatkan tumor jinak (non-kanker). Khususnya, cairan berwarna kuning hijau biru atau hitam biasanya dikategorikan tidak mencurigakan.

Sebagai contoh, cairan berwarna biru atau hitam sering berkaitan dengan kista jinak. Cairan yang bercampur darah, tidak berwarna, atau berwarna bening justru lebih mencurigakan, tapi biasanya hasil pemeriksaan lebih lanjut mendiagnosa bahwa kondisinya tidak membahayakan.

nipple-discharge

Bilateral nipple discharge (cairan keluar dari kedua puting payudara) biasanya tidak berbahaya dan tidak menuntut pemeriksaan dengan ductography atau prosedur yang lain. Namun bagaimanapun juga, semua cairan yang terus menerus keluar dari puting harus dilaporkan kepada dokter untuk diperiksa.

Apakah Semua Wanita Dapat Menjalani Ductography?

Hampir semua wanita dapat melakukan ductography, kecuali wanita dengan kondisi:

  1. Wanita dengan alergi berat terhadap media kontras pemeriksaan yang digunakan selama prosedur. (pada beberapa kasus, dimungkinkan melakukan ductography dengan pengobatan awal dan kontras non-ionik karena sebagian kecil kontras sebenarnya diserap tubuh selama prosedur)
  2. Wanita yang pernah menjalani operasi puting payudara yang menyebabkan tidak adanya koneksi sama sekali antara puting dengan salurannya. (hasilnya sangat terbatas, namun masih memiliki informasi dalam mendeteksi ketidaknormalan pada satu bagian kecil saluran di bawah puting)
  3. Wanita dengan kondisi puting sangat melesak ke dalam (retractive nipple) karena akan membuat prosedur sulit dilakukan.

Berbeda dengan screening mammography dan diagnostic mammography, ductography merupakan satu prosedur yang dikhususkan dan hanya dilakukan pada rumah sakit tertentu oleh ahli radiologi yag berpengalaman dengan ductography. Banyak fasilitas kesehatan melayani screening dan diagnostic mammography, tetapi tidak melayani ductography.

Bagaimana ductography dilakukan?

Prosedur ductography membutuhkan waktu 30 menit hingga 1 jam.Pasien yang dirujuk melakukan ductography semuanya mengalami pengeluaran cairan dari puting. Sebelum menjalankan prosedur, puting akan dibersihkan dan disterilkan dengan alkhohol untuk membersihkan sisa cairan yang kering dan menempel pada puting. Petugas kemudian akan melakukan pijatan pada payudara untuk mendapatkan cairan.

Pasien yang mengalami nipple discharge, akan memiliki titik dimana saat dipencet cairan akan keluar. Setelah mengidentifikasi saluran yang mengeluarkan cairan, petugas radiologi akan menancapkan satu jarum (disebut blunt-tipped cannula) pada area di puting tersebut sementara pasien memegang putingnya dengan ibu jari dan jari telunjuknya. Biasanya tanpa tarikan, puting hanya sedikit diarahkan ke bawah, hal ini diperlukan agar cannula dapat masuk ke dalam saluran air susu si pasien.

ducto-cannulaCannula, jarum bengkok di bagian ujungnya

Setelah cannula dapat masuk, sedikit cairan radiopaque (media kontras) disuntikkan ke dalam payudara melalui suntikan yang disambungkan ke cannula. Payudara kemudian dicitrakan dengan mammography. Kontras dari unsur radiopaque membantu pencitraan anatomi saluran air susu pada hasil pencitraan. Setelah selesai, puting ditempel plester untuk menghindari keluarnya cairan ke pakaian pasien.

Media kontras radiopaque adalah sebuah cairan obat yang dibuat dari zat yang melemahkan (attenuate) sinar X saat melintasi organ yang mengandung media kontras ini (pada kasus ini saluran air susu di payudara). Saluran air susu yang diisi media kontras akan terlihat lebih cerah dari hasil mamogram dan memungkinkan ahli radiologi melihat dengan lebih baik adanya intraductal papilloma atau ketidaknormalan lainnya yang terjadi. Ketidaknormalan pada payudara untuk sebagai titik hitam di tengah saluran air susu yang terlihat putih.

hasil-ducto-normal-ectasia-intrad-lesion-int-papiHasil Ductography

Hasil ductography:

  1. Gambar a. payudara normal
  2. Gambar b. payudara dengan duct ectasia
  3. Gambar c. payudara dengan luka di saluran susu
  4. Gambar d. payudara dengan intraductal papilloma

Jika petugas mengalami kesulitan dalam memasukkan cannula ke dalam saluran payudara, gel bius lokal atau kompres hangat biasa digunakan sebelum prosedur dilakukan kembali. Sebagian dokter melapisi ujung cannula dengan gel bius dan juga dioleskan pada permukaan puting. Jika cannula masih juga sulit masuk, setelah dilakukan tiga upaya tersebut di atas, prosedur biasanya dibatalkan dan dijadwalkan kembali satu atau dua minggu kemudian.

Apakah Ductography Menyakitkan?

Prosedur ductography dapat memberikan sedikit rasa tidak nyaman, namun secara keseluruhan tidak menyakitkan. Ductography akan lebih tidak nyaman, jika jumlah cairan yang keluar tidak cukup banyak karena akan menyulitkan dokter atau radiolog menemukan saluran mana yang menjadi sumber cairan. Kondisi ini akan membutuhkan pemeriksaan untuk menemukan saluaran yang tepat. Jika terdapat cairan yang cukup signifikan, jarum cannula lebih mudah dimasukan ke dalam saluaran payudara dan pasien pun hanya merasakan sedikit ketidaknyamanan.

Alat suntik digunakan untuk menyuntikkan media kontras melalui jarum cannula. Tidak menimbulkan rasa sakit, tetapi menyebabkan sensasi “penuh” sama seperti saat payudara berisi ASI saat menyusui (laktasi). Jika pasien merasa “terlalu penuh” atau sakit saat media kontrasi disuntikkan, pasien harus memberitahu radiolog. Tujuan menyuntik penuh saluran aair susu dengan media kontras adalah untuk memperoleh gambar atau pencitraan sebagus mungkin. Sensasi tertekan atau penuh adalah tanda yang baik karena berarti saluran dalam kondisi penuh dan membesar (distended). Bagaimanapun juga, tetap harus hati-hati jangan sampai terlalu penuh karena justru dapat menghilangkan citra ketidaknormalan yang terjadi (terlalu kontras, sehingga noda/titik hitam justru tidak terlihat).

ducto-cannula-masukProses Pengisian Cairan Radiopaque

Pada beberapa kasus, extravasation dapat terjadi selama ductography berlangsung. Extravasation adalah aliran media kontras dari saluran payudara keluar ke jaringan payudara di sekitarnya. Jika ini terjadi, cannula akan dilepas dan pasien diberi pengobatan penghilang rasa sakit (seperti ibuprofen) jika diperlukan. Prosedur akan dijadwalkan kembali, biasanya satu atau dua minggu kemudian. Untuk membantu meminimalkan terjadinya extravasation, ductography harus dilakukan oleh ahli radiologi dengan pengalaman yang signifikan terkait prosedur yang dilakukan.

Penanganan Apa yang Biasa Mengikuti Ductography?

Ductogram (juga disebut galactogram) sebagai hasil uji ductography, tidak selalu mampu mengidentifikasi penyebab nipple discharge. Mayoritas pasien yang menjalani ductography akhirnya memerlukan pembedahan untuk menangani cairan yang ada. Pembedahan dilakukan untuk mengambil papilloma dan bintil-bintil lainnya yang ada di dalam saluran payudara.

Pada beberapa kasus, pengangkatan seluruh saluran dilakukan. Sebagai contoh, beberapa pasien dengan duct ectasia (pelebaran dan pengerasan saluran air susu) memerlukan pembedahan untuk mengangkat saluran yang terganggu jika penangan yang lain, seperti kompres panas tidak bisa membantu.

Bahkan jika penyebab keluarnya cairan dari puting tetap belum diketahui setelah ductography, ductogram masih dapat membantu dokter bedah menemukan saluran yang terganggu, jadi hanya saluran tersebut saja yang perlu diangkat. Biasanya akan dibarengi dengan mencampur zat warna biru dalam media kontras radiografik sehingga dokter bedah dapat melihat saluran yang tidak normal tersebut adalah yang berwarna biru.

Beberapa dokter bedah merasa ductography tidak diperlukan sepanjang pasien cenderung memilih untuk menjalani pembedahan. Bagaimanapun juga, mengidentifikasikan tipe ketidaknormalan, jumlah ketidaknormalan, serta penyebarannya di dalam peyudara akan sangat membantu dalam membantu dokter bedah mengangkat sesedikit mungkin jaringan atau memastikan untuk mengangkat seluruh jaringan tekait dengan penyebaran ketidaknormalan yang ada.

Apa Itu Kanker Payudara?

mencet-tetek

Rekan semua, pada tulisan kali ini saya ingin berbagi informasi mendasar tentang kanker payudara. Penyakit yang dinyatakan sebagai pembunuh wanita terbanyak di dunia ini, ternyata memiliki sifat juga jenis yang beragam. Apa sajakah itu? Yuk, kita simak bersama….

Kanker adalah kelompok penyakit, dimana sel tubuh berkembang, berubah, dan menduplikasi diri diluar kendali. Biasanya, nama kanker diberikan berdasar bagian tubuh dimana kanker pertama kali tumbuh. Jadi, kanker payudara merujuk pada pertumbuhan serta perkembangbiakan sel abnormal yang muncul pada jaringan payudara.

Satu kelompok sel akan membelah secara cepat dan membentuk benjolan atau masaa jaringan ekstra. Massa ini disebut tumor. Tumor dapat bersifat ganas (malignant, cancerous) atau jinak (benign, non-cancerous). Tumor yang bersifat ganas akan menyusup dan menghancurkan jaringan tubuh yang sehat. Satu kelompok sel dalam sebuah tumor juga dapat pecah dan menyebar ke bagian tubuh lainnya. Sel yang menyebar dari satu bagian tubuh ke bagian tubuh yang lain disebut metastases.

Istilah kanker payudara merujuk pada tumor ganas yang telah berkembang dari sel-sel yang ada di dalam payudara. Payudara secara umum terdiri dari dua tipe jaringan: jaringan glandular (kelenjar) dan jaringan stromal (penopang). Jaringan kelenjar mencakup kelenjar susu (lobules) dan saluran susu (the milk passage, milk duct). Sedangkan jaringan penopang meliputi jaringan lemak dan jaringan serat konektif. Payudara juga dibentuk oleh jaringan lymphatic, sebuah jaringan yang berisi system kekebalan yang bertugas mengeluarkan cairan dan kotoran selular.

The American Cancer Society (2008) memperkirakan setiap tahunnya sekitar 178.000 wanita Amerika dan 2.000 pria Amerika akan didiagnosis terkena kanker payudara. Kanker payudara merupakan penyebab utama kematian wanita berusia 40-55 tahun, serta penyebab terbesar kedua kematian wanita setelah kanker paru. Beruntung, tingkat kematian akibat kanker payudara telah menurun di tahun 2008 dengan dikembangkan dan disosialisasikannya program deteksi awal serta semakin efektifnya penanganan kanker payudara.

Kanker payudara berdasar sifatnya serangannya, terbagi menjadi 2 (dua), yaitu kanker payudara invasive dan kanker payudara non-invasif.

1. Kanker Payudara Invasif
Sel kanker merusak saluran dan dinding kelenjar susu serta menyerang lemak dan jaringan konektif payudara di sekitarnya. Kanker dapat bersifat invasif (menyerang) tanpa selalu menyebar (metastatic) ke simpul limfe atau organ lain dalam tubuh.

2. Kanker Payudara Non-Invasif
Sel kanker terkunci dalam saluran susu dan tidak menyerang lemak dan jaringan konektif payudara di sekitarnya. Ductal carcinoma in situ (DCIS), merupakan bentuk kanker payudara non-invasif yang paling umum terjadi (90%). Lobular carcinoma in situ (LCIS) meski lebih jarang, justru perlu lebih diwaspadai karena merupakan tanda meningkatnya risiko kanker payudara.

Berdasar tingkat prevalensinya, kanker payudara dibagi menjadi dua, yaitu yang umum terjadi dan jarang terjadi.

Jenis Kanker Payudara yang Umum Terjadi

1. Lobular carcinoma in situ (LCIS, lobular neoplasia): Kata “in situ” merujuk pada kanker yang tidak menyebar dari area dimana kanker mulai muncul. Pada LCIS, pertumbuhan jumlah sel jelas terlihat, berada di dalam kelenjar susu (lobules). Banyak dokter tidak mengklasifikasikan LCIS sebagai kanker payudara dan sering “menantang” pasien untuk dilakukannya biopsy payudara saat investigasi medis dilakukan. Pasien LCIS dimonitor dengan ketat setiap empat bulan sekali oleh dokter dengan melakukan uji klinis payudara, ditambah mamogarfi setiap tahunnya. Pencegahan lain yang juga mungkin dilakukan adalah dengan memberikan obat seperti tamoxifen atau prophylactic mastectomy (pengangkatan payudara yang dilakukan sebagai usaha preventif).

2. Ductal carcinoma in situ (DCIS): Merupakan tipe kanker payudara non-invasif yang paling umum terjadi. DCIS seringkali terdeteksi pada mammogram sebagai microcalcifications (tumpukan kalsium dalam jumlah kecil). Dengan deteksi dini, rerata tingkat bertahan hidup penderita DCIS mencapai hampir 100%, dengan catatan, kanker tidak menyebar dari saluran susu ke jaringan lemak payudara dan bagian lain dari tubuh. Terdapat beberapa tipe DCIS. Sebagai contoh, ductal comedocarcinoma, yang merujuk pada DCIS dengan necrosis (area dengan sel kanker yang mati atau mengalami degenerasi).

3. Infiltrating lobular carcinoma (ILC): Juga dikenal sebagai invasive lobular carcinoma. ILC mulai terjadi di dalam kelenjar susu (lobules) payudara, tetapi sering menyebar (metastatizes) ke bagian tubuh yang lain. ILC terjadi 10% sampai 15% dari seluruh kejadian kanker payudara.

4. Infiltrating ductal carcinoma (IDC): Juga dikenal sebagai invasive ductal carcinoma. IDC terjadi di dalam saluran susu payudara dan menjebol dinding saluran, menyerang jaringan lemak payudara dan kemungkinan juga terjadi di bagian tubuh yang lain. IDC merupakan tipe kanker payudara yang paling umum terjadi, sekitar 80% dari seluruh diagnosis kanker payudara.

Jenis Kanker Payudara yang Jarang Terjadi

1. Medullary carcinoma: Merupakan satu jenis kanker payudara invasive yang membentuk satu batas yang tidak lazim antara jaringan tumor dan jaringan normal. Medullary carcinoma hanya terjadi sekitar 5% dari seluruh kejadian kanker payudara.

2. Mucinous carcinoma: Juga disebut colloid carcinoma. Mucinos carcinoma merupakan satu jenis kanker payudara yang jarang terjadi, terbentuk oleh sel kanker yang memproduksi mucus (lendir). Wanita dengan kanker jenis ini memiliki tingkat bertahan hidup cukup baik, dibandingkan dengan wanita dengan jenis kanker invasif yang lebih umum terjadi.

3. Tubular carcinoma: Merupakan satu tipe khusus dari kanker payudara invasive. Wanita dengan tubular carcinoma biasanya memiliki harapan kesembuhan cukup baik. Jenis kanker ini terjadi sekitar 2% dari keseluruhan diagnosis kanker payudara.

4. Inflammatory breast cancer: Merupakan kondisi dimana payudara terlihat meradang (merah dan hangat) dengan cekungan dan atau pinggiran yang tebal yang disebabkan oleh sel kanker yang menyumbat pembuluh limfe kulit pembungkus payudara. Meski kanker payudara jenis inflammatoty ini jarang terjadi (sekitar 1%), namun jika terjadi, perkembangannya sangat cepat.

5. Paget’s disease of the nipple: Satu jenis kanker payudara yang berawal di saluran susu, kemudian menyebar ke kulit areola dan puting. Terjadi hanya sekitar 1%. Kulit payudara akan pecah-pecah, memerah, mengoreng (borok), dan mengeluarkan cairan. Wanita dengan kanker jenis ini memiliki tingkat kesembuhan lebih baik, jika tidak disertai munculnya benjolan.

6. Phylloides tumor: Juga disebut phyllodes, merupakan kanker payudara yang dapat bersifat jinak maupun ganas. Tumor phylloides berkembang di dalam jaringan konektif payudara dan dapat ditangani dengan operasi pengangkatan. Tumor payudara ini sangat jarang terjadi; kurang dari 10 wanita meninggal karena kanker payudara jenis ini setiap tahun di Amerika.

Nah, secara umum kini rekan semua telah mengenal kanker payudara. Ke depan saya akan mengupas, satu persatu jenis kanker payudara ini. Saya siapkan dulu yaa…

USG Payudara. Apa Itu?

breast-ct

Periksa USG. Pasti yang lekat di benak kita adalah periksa kehamilan. Pemeriksaan kandungan yang mampu memberikan informasi kondisi kesehatan juga jenis kelamin si jabang bayi sebelum kelahirannya, saat ini menjadi sebuah keharusan setiap pasangan yang menantikan kelahiran buah hati. Tapi, apakah rekan semua juga pernah mendengar tentang USG payudara? Apa itu USG payudara? Berikut tulisan saya…

USG payudara (breast ultrasound) yang juga dikenal dengan sonography atau ultrasonography, sering digunakan untuk mengevaluasi ketidaknormalan payudara yang ditemukan pada hasil mammographyscreening atau mammography diagnostic atau uji klinis payudara. USG memberi kebebasan orientasi pencitraan payudara hampir dari arah manapun, karena fleksibilitas alat yang digerakkan tangan untuk memeriksa seluruh bagian payudara.

USG sangat bagus untuk mencitrakan kista payudara: kantung bulat, berisi cairan, di dalam payudara. USG dengan cepat dapat menemukan kista (selalu non kanker) ataupun pertambahan volume jaringan padat (dense mass) yang biasanya dirujuk dilakukannya biopsy untuk menentukan apakah jaringan tersebut bersifat ganas (cancerous).

breast-cyst_usgHasil USG Payudara, Lubang2 Hitam di Sebelah Kiri adalah Kista

Jika hasil pemeriksaan USG dan mammogram keduanya memberikan hasil negative (tidak terlihat tanda adanya kanker), tetapi dokter masih curiga karena adanya massa padat ataupun penebalan payudara, maka seorang pasien akan menjalani proses lanjutan berupa biopsy payudara yang disebut fine needle aspiration biopsy (FNA) di area yang dicurigai tersebut.

Meski USG memiliki kemampuan gambar yang kontras, namun kurang dalam hal detil dan kalah baik dengan hasil mammography tradisional sekalipun. Karenanya badan administrasi makanan dan obat Amerika - U.S. Food and Drug Administration (FDA) tidak merekomendasikan USG payudara sebagai metode deteksi kanker payudara. Lebih jauh, USG digunakan untuk menyelidiki ketidaknormalan yang ditemukan pada hasil mammography atau uji payudara. Saat ini FDA hanya menyetujui mammography sebagai metode deteksi kanker payudara pada wanita tanpa gejala kanker payudara (asymptomatic women).

USG versus Mammography

USG memiliki reseolusi kontras yang sangat baik. USG dapat menemukan kista dan membedakannya dengan area jaringan payudara normal dengan gambar yang jelas. Namun, USG tidak memiliki resolusi spasial yang baik seperti pada mammography sehingga tidak dapat memberikan gambar (citra) sedetil hasil mammography.

mammography_digintradHasil Pencitraan dengan Mammograpgy Digital dan Tradisional

USG juga tidak mampu mendeteksi terjadinya kalsifikasi mikro (microcalcifications), yaitu penumpukan kalsium yang merupakan indikasi pertama terjadinya kanker payudara. Sebaliknya, mammography mampu memberikan citra kalsifikasi dengan sangat baik.

Meski hampir seluruh benjolan payudara dapat ditemukan dengan mammography atau USG, beberapa ketidaknormalan payudara terlewat dari deteksi kedua pemeriksaan ini. Contohnya, benjolan dapat dirasakan, tapi tidak terlihat pada gambar mammography atau USG. Jika hal tersebut terjadi, maka fine needle aspiration biopsy (FNA) akan dilakukan. Kurang dari 30% hasil biopsy yang menunjukkan hasil kanker. Pada kasus dimana ketidaknormalan tidak terlihat pada mammography atau USG, peluang terjadinya kanker payudara sangat kecil.

Kekurangan USG

USG membutuhkan waktu untuk menangkap ketidaknormalan payudara berdasar:

  1. Kedalaman lokasi ketidaknormalan di dalam payudara.
  2. Faktor peralatan dan operator.
  3. Kontras gambar antara jaringan normal dan tidak normal.

USG kurang baik dalam mendeteksi kanker payudara karena :

  1. Resolusi spasial yang rendah sehingga tidak mampu menghasilkan gambar detil.
  2. Tidak dapat mendeteksi penumpukan kalsium pada tumor payudara.
  3. Efektivitsnya sangat bergantung kecakapan dan kerampilan operator.
  4. Tidak dapat mendokumentasikan jaringan payudara yang telah diperiksa.
  5. Kegagalan hasil (kontras-hitam putih) dapat terjadi.

Bagaimana USG Payudara Dilakukan?

USG menggunakan gelombang suara frekuensi tinggi untuk menghasilkan gambar (citra) payudara. Gelombang suara frekuensi tinggi tersebut dipancarkan dari sebuah tranduser ke payudara. Pantulan gelombang suara dari payudara ditangkap oleh tranduser dan kemudian diterjemahkan oleh sebuah komputer menjadi sebuah gambar (citra) yang terlihat di layar monitor.

breastusg

Sebelum pemeriksaan dimulai, pasien akan berbaring pada tempat khusus. Payudara akan diolesi dengan gel. Gel tersebut berfungsi sebagai pelumas kulit dan membantu transmisi gelombang suara.

Saat pemeriksaan dimulai, dokter atau petugas akan menggeser-geserkan transduser di payudara. Transduser akan memancarkan dan menangkap pantulan gelombang suara. Komputer akan menganalisis pantulan suara tersebut dan menggambarkannya di layar monitor. Bentuk dan intensitas pantulan begantung pada kepadatan jaringan payudara.

Jika sebuah kista payudara sedang digambarkan, hampir seluruh gelombang suara akan melewati kista serta menghasilkan pantulan yang lemah. Jika tumor payudara yang digambarkan, gelombang suara akan memantul dari benda padat tersebut dan pola pantulannya diterjemahkan oleh komputer menjadi gambar yang dikenali/diindikasikan sebagai massa solid. Selama pemeriksaan pasien akan merasakan sedikit tekanan dari transduser.

Pemeriksaan USG akan berakhir setelah 20 atau 30 menit, namun akan lebih lama jika operator sulit menemukan ketidaknormalan yang dilaporkan. USG tidak menggunakan radiasi dan bebas rasa sakit.

Invasive Ductal Carcinoma (IDC)

blackpanty

Rekan semua, kanker payudara invasif pada salurun susu (invasive ductal carcinoma) ternyata memiliki tingkat keganasan dan prevalensi (tingkat kejadian) lebih tinggi dari kanker payudara invasif di kelenjar susu (invasive lobular carcinoma) yang telah saya tuliskan dalam artikel terdahulu. Bagaimana detilnya, apa tanda-tandanya, juga bagaimana diagnosis dan pengobatannya? Yuk simak tulisan berikut ini…

Invasive Ductal Carcinoma, juga dikenal sebagai IDC atau Infiltrating Ductal Carcinoma atau Carcinoma of No Special Type (NST) atau Not Otherwise Specified (NOS), merupakan kanker payudara yang paling umum terjadi. IDC terjadi 65%-80% dari seluruh kejadian kanker payudara. IDC berawal dari saluran susu dan menyerang jaringan payudara di sekitarnya. Jika tidak ditangani pada stadium awal, IDC dapat menjalar ke bagian tubuh lain melalui system aliran darah dan limfatik.

Wanita memiliki risiko terbesar terkena IDC ketika mereka mencapai usia 45 tahun. Seiring bertambahnya usia, risiko kanker payudara justru meningkat. Sekitar 50 persen, IDC terjadi pada wanita berusia 65 tahun. Sekitar 20 persen dari wanita yang memiliki sejarah keluarga pengidap kaker payudara. Faktor lain risiko wanita terkena kanker payudara adalah memiliki anak pertama di atas usia 30 tahun, menstruasi pertama terlalu muda, usia menopause terlalu tua, serta banyak mengkonsumsi alkohol.

Karakteristik Invasive Ductal Carcinoma (IDC)

Invasive Ductal Carcinoma ditandai munculnya benjolan keras dengan batas yang tak beraturan. Benjolan IDC akan terasa lebih keras, lebih kuat, dan lebih “tertancap” dibandingkan benjolan jinak lainnya. Kulit payudara di area yang terserang IDC dan puting akan tertarik ke dalam (pulled in). Pada hasil mammogram, IDC biasanya terlihat sebagai satu massa dengan ujung-ujung runcing yang muncul dari batas benjolan, kadang juga terlihat sebagai benjolan dengan batas halus atau sebagai kalsifikasi (penumpukan kalsium) area tumor.

idc

Diagnosis Pathologis Invasive Ductal Carcinoma (IDC)

Ahli patologi akan menguji spesimen biopsi, yang akan dibarengi dengan uji-uji yang lain bila diperlukan. Jika mamografi menunjukkan temuan yang mencurigakan, maka biopsi akan dianjurkan. Biopsi merupakan metode yang luas digunakan dalam membuat diagnosis yang kuat dari kanker payudara. Selama prosedur biopsi, dokter akan mengambil sel atau jaringan dari area yang dicurigai, dan akan dibawa ke laboratorium patologi untuk diuji lebih lanjut.

core-needle-biopsy

Pada beberapa kasus, biopsi dilakukan dengan pembedahan. Dokter akan mengambil seluruh atau sebagian tumor dan diserahkan kepada ahli patologi untuk diuji. Uji laboratorium akan memberi informasi kepada ahli patologi untuk menentukan tipe kanker dan juga sifatnya, invasif atau tidak. Contoh jaringan akan diperiksa di bawah mikroskop dan akan ditentukan tipe histologisnya, juga tingkat tumornya secara histologis (histologic tumor grade).

Tingkat 1, kanker memiliki tingkat pertumbuhan paling lambat, sementara Tingkat 3 tumor menyebar dengan lebih agresif. Ahli patologi juga akan mencatat ukuran tumor, seberapa dekat kanker dengan batas jaringan yang diambil dalam pembedahan, dan juga apakah tumor menyerang pembuluh darah dan limfatik. Faktor ini membantu ahli patologi menentukan masih adanya atau kembalinya kanker menyerang area yang sama.

Hal lain yang Dilihat Ahli Patologi pada IDC

Contoh biopsi diuji untuk mengetahui adanya reseptor estrogen dan progesterone. Wanita dengan kanker yang mengandung reseptor ini akan lebih dapat merespon secara positif terhadap terapi hormon. Ahli patologi juga akan menguji adanya protein yang disebut HER2/neu. Kanker dengan banyak protein jenis ini dapat merespon terapi dengan Herceptin.

Setelah melihat hasil uji laboratorium, dokter akan merekomendasikan pemeriksaan tambahan untuk menentukan keganasan sel yang mungkin telah menyebar ke bagian tubuh yang lain. Bergantung kondisi individual, pemeriksaan dengan foto rontgen dada, pemindaian tulang (bone scan), juga pencitraan seperti computed tomography (CT), magnetic resonance imaging (MRI), atau PET (positron emission tomography). Seluruh pemeriksaan ini dapat mendeteksi apakah kanker telah menyebar ke bagian tubuh yang lain. Dengan keseluruhan pemeriksaan tersebut, ahli patologi dapat menentukan stadium kankernya.

Stadium 1, tumor IDC masih tetap di dalam payudara. Stadium 4, IDC telah menyebar ke area di sekitar payudara. Stadium 2 dan 3 memiliki kondisi di antara stadium 1 dan 4.

Penanganan Invasive Ductal Carcinoma (IDC)

Hasil seluruh pemeriksaan patologis diserahkan kepada dokter setelah dianalisis dan ditentukan stadium kankernya. Dan bersama-sama, dokter dan ahli patologi, akan menentukan pilihan penanganan yang paling tepat untuk pasien.

IDC biasanya ditangani dengan satu atau lebih tindakan: pembedahan, kemoterapi, terapi hormonal, dan terapi radiasi. Penting bagi pasien untuk belajar sebanyak mungkin tentang pilihan penanganan IDC, agar dapat menentukan penanganan yang paling tepat. Hampir semua wanita memilih pembedahan. Perkembangan dan kecanggihan teknik bedah telah membuat 70% wanita dapat memilih operasi lumpectomy dibanding mastectomy, dimana seluruh payudara dan sebagian simpul limfe di sekitar payudara akan diangkat.

lumpectomy

Mastektomi mengurangi kemungkinan kembalinya kanker. Lumpectomy merupakan sebuah pilihan jika kanker menjadi bagian yang secara relative kecil di payudara. Seberapa jauh tumor telah berkembang dan parah akan dapat ditentukan jika penanganan untuk mempertahankan payudara dapat dilakukan. Jika payudara tidak dapat dipertahankan, operasi rekonstruksi payudara dapat dilakukan setelah pulih dari operasi pengangkatan kanker.

Kebanyakan wanita dengan kanker payudara invasif akan ditawari kemoterapi dan atau terapi hormonal. Penanganan dengan obat atau hormon akan berpengaruh ke seluruh tubuh dan mengurangi risiko kanker menyebar lebih jauh ataupun kambuh kembali. Terapi radiasi dilakukan ke bagian tubuh untuk membunuh sisa kanker di area dimana tumor pertama kali ditemukan. Uji klinis merupakan penanganan baru IDC yang dikembangkan di Amerika. Meskipin masih bersifat eksperimental, namun diyakini dapat menjadi alternative penyembuhan kanker stadium lanjut.

Mengenal Biopsi Payudara

needlebiopsy2

Rekan semua, untuk mengetahui adanya kanker pada payudara, selain dengan pemeriksaan yang bersifat pencitraan (gambar), juga dapat dengan cara mengambil contoh jaringan payudara. Tahukah rekan-rekan tentang biopsi payudara? Bagaimana biopsi dilakukan? Adakah tipe-tipenya? Berikut ini tulisan yang saya rangkum dari berbagai sumber…

Biopsi payudara (breast biopsy) merupakan tindakan untuk mengambil contoh jaringan payudara dan dilihat di bawah lensa mikroskop untuk mengetahui adanya sel kanker payudara. Tindak biopsy payudara biasanya dilakukan untuk mengetahui lebih lanjut benjolan payudara yang ditemukan saat pemeriksaan dengan mammogram atau USG payudara.

Hasil biopsy payudara akan memberikan jawaban apakah contoh jaringan payudara pada benjolan merupakan bersifat kanker-ganas (malignant) atau non kanker-jinak (benign).

Terdapat beberapa cara untuk melakukan biopsy payudara.

Yang umum dilakukan adalah:

1. Fine-needle aspiration biopsy (FNA) – menggunakan jarum kecil yang dimasukkan melalui kulit payudara dan dari ujung jarum tersebut, contoh jaringan diambil untukkemudian diperiksa. FNA biasanya digunakan untuk mengambil contoh jaringan benjolan yang padat atau berisi cairan (kista). Jika benar kista, maka akan kempis setelah semua cairan diambil. Jika tidak ada cairan, tipe biopsy lain akan dilakukan.

fine-needle-biopsy

2. Core needle biopsy – menggunakan jarum yang lebih besar dengan bentuk ujung yang khusus. Jarum dimasukkan, menembus kulit sampai ke benjolan, dan contoh jaringan diambil seukuran ujung pensil. Biopsi jenis ini juga dapat dilakukan dengan menggunakan unit penyedot yang secara perlahan akan mengambil contoh jaringan yang lebih besar.

core-needle-biopsy

3. Stereotactic biopsy – menggunakan sinar X tipe khusus dengan jarum yang sama tipenya dengan core needle biopsy. Teknik ini dapat menemukan benjolan yang tidak dapat dirasakan dengan rabaan, tetapi terlihat saat pemeriksaan dengan mammogram atau USG payudara. Sayatan kecil dibuat di kulit payudara untuk memudahkan jarum masuk ke payudara dengan panduan sinar X. Stereotactic biopsy hanya diberlakukan untuk kasus-kasus tertentu dan hanya dokter ahli yang mengijinkan dilakukannya biopsy ini.

stereotacticbiopsy

4. Open biopsy – biopsy terbuka dengan mengiris kulit dan mengambil sebagian atau seluruh benjolan. Jika dokter tidak dapat merasakan adanya benjolan, jarum atau kabel khusus akan dimasukkan ke area yang dicurigai saat pemeriksaan mammogram sebelum pembedahan dilakukan. Gambar jarum atau kabel tersebut akan membantu dokter menentukan area di mana benjolan terjadi dan menentukan sayatan bedah yang harus dilakukan untuk mengambil benjolan tersebut.

open-biopsy

Pemeriksaan dan biopsy lanjutan akan dilakukan jika ditemukan masalah (tanda-tanda adanya kanker) pada biopsi pertama.

Sumber :
http://women.webmd.com
http://nlm.nih.gov
http://healthinformation.centracare.com
http://revolutionhealth.com
http://mayoclinic.com