Tampilkan postingan dengan label kanker payudara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kanker payudara. Tampilkan semua postingan

Selasa, 22 September 2009

Waspadai Kanker Payudara Pada Pria

guanteng

Rekan semua tentu telah mengetahui, bahwa dalam dunia medis dan statistik kedokteran dunia, kanker payudara menjadi pembunuh utama wanita selain kanker servik atau leher rahim. Namun apakah anda mengetahui bahwa kanker payudara tidak hanya menyerang wanita?

Ya, kanker payudara juga dapat menyerang kaum pria! Sayangnya, pria kurang mengenali gejala klinis penyakit ini, sehingga kanker yang diidap telanjur menyebar atau memasuki stadium lanjut. Gejala klinis kanker payudara pada pria menyerupai gejala yang dialami wanita dan berasal dari kelenjar susu. Kanker payudara dimulai adanya pertumbuhan sel yang cepat disebut hyperplasia atau juga adanya pertumbuhan sel tak setipe (atype hyperplasia).

Bedanya, pria jarang terkena penyakit ini sebelum berumur 50 tahun. Umumnya hal ini banyak dialami pria pada usia lanjut. Oleh karena itu, setelah berusia 50 tahun, pria disarankan mewaspadai benjolan padat dan keras di belakang puting susunya.

Gejala
Benjolan. Gejala ini sama seperti kanker payudara yang dialami wanita, mulanya cuma benjolan. Tetapi karena jaringan payudara pria lebih sedikit dibandingkan wanita, kemunculan benjolan di payudara yang masih sangat kecil pun mestinya sudah teraba. Umumnya benjolah hanya dialami di satu payudara, dan bila diraba terasa keras, menggerenjil.

Perubahan pada puting. Bila stadium kanker sudah lanjut, ada perubahan pada puting dan daerah hitam di sekitar puting. Kulit putingnya bertambah merah, mengerut, tertarik ke dalam, atau bisa jadi puting mengeluarkan cairan. Benjolan yang tadinya bersifat jinak (benign) akan disebut kanker bila sifatnya menjadi ganas (malignant) serta menyebar (metastasize).

Pemicu dan Penyebab
1. Genetis. Seorang pria berisiko mengidap penyakit ini jika ada kerabatnya, baik pria atau wanita, yang pernah terkena kanker payudara. Ayah dengan mutasi gen kanker payudara juga bisa mewariskan kanker tersebut kepada anak perempuannya.

2. Gaya hidup buruk. Kebiasaan merokok dan minum alkohol juga meningkatkan risiko kanker.

3. Penyakit hati. Metabolisme hati (perlemakan hati) menyebabkan metabolisme hormonal terganggu dan memicu pembesaran kelenjar susu di payudara yang ganas. Pembesaran kelenjar susu pada pria bisa disebabkan komplikasi penyakit lever, ada kelainan hormon atau kromosom.

4. Kelebihan hormon seks perempuan. Pria yang mengidap kelebihan estrogen untuk waktu lama bukan mustahil mendadak bisa punya payudara. Semakin tinggi kadar estrogen dalam darah, semakin besar ukuran payudaranya. Contohnya terapi estrogen pada pria yang operasi ganti kelamin, misalnya.

Pendeteksian
Melakukan SADARI. Anjuran untuk mendeteksi dini kanker payudara dengan melakukan SADARI (Pemeriksaan Payudara Sendiri) tidak hanya berlaku untuk wanita tapi juga untuk pria. Pria harus merasa lebih beruntung karena mereka akan lebih mudah mendeteksi benjolan di sekitar payudara.

Mamografi (rontgen khusus untuk payudara). Pada mamografi digunakan sinar x dosis rendah untuk menemukan daerah yang abnormal pada payudara.

Ultrasonografi / USG (memotret alat tubuh bagian dalam). USG digunakan untuk membedakan kista (kantung berisi cairan) dengan benjolan padat.

Pengobatan
Biasanya pengobatan dimulai setelah dilakukan pemeriksaan secara menyeluruh terhadap kondisi penderita yaitu sekitar 1 minggu setelah biopsi. Pengobatannya terdiri dari pembedahan, terapi penyinaran yang digunakan untuk membunuh sel-sel kanker di tempat pengangkatan tumor dan daerah sekitarnya termasuk kelenjar getah bening.

Kemoterapi (kombinasi obat-obatan untuk membunuh sel-sel yang berkembang biak dengan cepat atau menekan perkembangbiakannya) dan obat-obat penghambat hormon (obat yang mempengaruhi kerja hormon yang menyokong pertumbuhan sel kanker) digunakan untuk menekan pertumbuhan sel kanker di seluruh tubuh. Hasil pengobatan tergantung pada stadium atau tingkatan kanker pada waktu pengobatan dilakukan

Nah, anda kini telah mengetahui bahwa kanker payudara bukanlah mutlak menyerang wanita. Pria pun memiliki kemungkinan mengidap penyakit mengerikan ini. Karenanya, mari kita menjaga pola hidup sehat, makan makan sehat, cukup istirahat, berolahraga, serta cerdas dalam mengelola stres.

O, iya… ada satu hal lagi yang dapat dipetik dari tulisan ini, bahwa penting bagi kita untuk saling mengingatkan dengan pasangan kita untuk senantiasa menjaga kesehatan organ yang ada di dada ini. Alhasil, kita makin saling menyayangi, khan?… :D

Breast Medullary Carcinoma

black

Rekan semua, kali ini saya menulis tentang satu jenis kanker payudara invasif yang disebut medullary carcinoma. Sama dengan invasive ductal carcinoma (IDC), medullary carcinoma, berawal dari sel kanker yang berkembang di dalam saluran susu. Apa tanda dan gelajanya serta bagaimana diagnosis dan penanganannya. Kita simak bersama yuuk…

Medullary carcinoma payudara merupakan bentuk kanker payudara invasif yang jarang terjadi. Kanker ini merupakan satu jenis dari invasive ductal carcinoma (IDC). Nama medullary diambil dari warnanya yang mendekati warna jaringan otak yang disebut medulla. Berawal di saluran susu, sel kanker yang besar terlihat sangat berbeda dengan sel normal dan sehat. Sel medullary carcinoma menderung membuat batas yang jelas antara tumor dengan jaringan sehat di sekitarnya. Tumor medullary carcinoma terlihat jelas pada hasil mamografi.

Kanker payudara jenis ini jarang terjadi dan hanya ditemukan sekitar 3% sampai 5% dari kanker payudara yang terdiagnosis. Sangat sulit membedakan antara medullary carcinoma dengan IDC, sehingga biasanya pada kasus ini pasien akan ditangani sebagaimana pasien IDC.

Tanda dan Gejala Medullary Carcinoma

Medullary carcinoma payudara tidak selalu akan muncul sebagai benjolan, tapi sebagai area dari jaringan payudara yang tebal dan spongy (seperti spon). Kanker tipe ini dapat menimbulkan pembengkakan dari dalam payudara. Begitu sel medullary carcinoma semakin besar dan cenderung mengumpul maka akan mendesak area di sekitarnya. Tumor yang terjadi memiliki permukaan sedikit lebih halus seperti kista payudara.

medullary

Diagnosis Medullary Carcinoma

Pada hasil mammogram, kanker payudara jenis medullary carcinoma dapat terlihat dengan jelas. Batas tumor dan jaringan sehat jelas terlihat . Jika masih meragukan, pemeriksaan USG dapat dilakukan. Jika perlu biopsy bedah (dengan mengambil sebagian jaringan tumor dengan operasi) ataupun stereotactic breast biopsy yang akan memberikan diagnosis yang lebih kuat dan meyakinkan.

Apa itu stereotactic core needle biopsy?
Merupakan jenis salah satu metode core needle biopsy dengan mammogram sebagai panduan bagi alat beserta jarum untuk mengambil contoh jaringan tumor. Pasien akan tidur tengkurap di atas meja periksa dengan salah satu payudara di posisikan pada lubang yang ada pada meja. Posisi meja periksa lebih tinggi dari petugas radiology yang akan melakukan biopsy. Payudara akan ditekan diantara dua plat saat mammogram membuat gambar, sehingga petugas akan melihat pada layar monitor dan mengetahui posisi tumor di dalam payudara secara pasti. Sayatan kecil sekitar 0.5 cm dibuat untuk memudahkan masuk dan keluarnya jarum saat biopsy dilakukan. Contoh jaringan inti kanker yang didapat akan dikirm ke laboratorium patologi untuk diperiksa lebih lanjut.

stereotatic-biopsy
Tingkat Kesembuhan Medullary Carcinoma

Medullary carcinoma cenderung berkembang cepat, tapi biasanya tidak menyebar ke pembuluh limfe seperti halnya tipe lain dari kanker payudara invasif. Setelah pengobatan, tingkat bertahan hidup penderita pada tahun pertama sekitar 92%.

Penanganan Medullary Carcinoma

Di banyak kasus, medullay carcinoma berhasil ditangani dengan baik. Meskipun tumor menjadi besar dan terkadang menyebar (metastasize), respon pengobatan yang diterima pasien rata-rata baik.

Penanganan yang dapat dilakukan meliputi:
Lumpectomy
•Mastectomy
•Chemotherapy
•Radiation
•Hormone Therapy

Sumber:
http://breastcancer.about.com
http://www.gfmer.ch
http://www.health.com

Tubular Carcinoma

hands-around

Rekan semua, masih tentang kanker di saluran susu, satu jenis lain yang akan saya uraikan dalam tulisan ini. Tubular carcinoma, nama yang didasarkan pada bentuk sel kankernya. Apa saja yang rekan semua perlu ketahui? Mari kita simak bersama…

Tubular carcinoma merupakan satu jenis dari kanker payudara invasive ductal carcinoma. Nama tubular diambil dari tampilan mikroskopis, dimana sel kanker berbentuk tabung kecil. Tubular carcinoma cenderung kecil, estrogen-receptor positive, HER2/neu negative. Pada beberapa kasus, sel kanker tubular tercampur dengan sel kanker ductal (di saluran susu) dan lobular (kelenjar susu), yang akan menghasilkan diagnosis tumor gabungan.

Tubular carcinoma atau juga disebut tubular breast cancer, TC, tubulolobular – TLC (jika gabungan dengan kanker lobular – kelanjar susu), terjadi sekitar 2% dari seluruh diagnosis kanker payudara. Pasien penderita tubular carcinoma biasanya berusia 50 tahun ke atas.

Tubular Carcinoma berbeda dengan Payudara Tubular (Tubular Breasts)

Payudara tubular atau tuberous breasts adalah kondisi bawaan lahir payudara (congenital breast condition), dimana payudara tidak berkembang sebagai jaringan kelenjar sebagaimana seharusnya payudara seorang wanita dewasa. Payudara tubular memiliki ciri areola (lingkaran gelap payudara) yang luas, terletak sangat rendah di dinding dada, dan tumbuh dengan kecenderungan melorot.

tubular-breastPayudara tubular (www.adjustablegelimplant.com)

Di Amerika, wanita dengan payudara tubular, biasanya akan terbantu dengan melakukan bedah plastik (plastic surgery) perbaikan bentuk payudara untuk mendapatkan bentuk payudara yang lebih mendekati normal. Jadi, memiliki payudara tubular tidak sama dengan menderita tubular carcinoma.

Tanda dan Gejala

Anda mungkin tidak dapat merasakan benjolan kecil dari tubular carcinoma, tapi akan terlihat jika anda menjalani pemeriksaan mamografi rutin. Jika pada tumor juga terdapat sel invasive ductal cancer, maka anda akan lebih dapat merasakan benjolannya. Ketika sel kanker tubular bergabung dengan lobular breast cancer (tubulolobar), maka gejala yang anda rasakan lebih mengarah sebagaiamana jika anda menderita invasive lobular carcinoma, yaitu adanya area yang mengalami penebalan.

Bagaimana Tubular Carcinoma Didiagnosis

Tubular carcinomas biasanya sangat kecil, namun akan tampak jika diperiksa dengan mammogram. Tampilan tubular carcinoma adalah massa dengan dengan batas-batas meruncing atau bergerigi. Pada hasil dengan USG, tubular carcinoma tampak sebagai massa dengan batas yang kabur dan terjadi kalsifikasi (penumpukan kalsium) di sekitarnya. Pusat tumor terlihat lebih padat dibandingkan area disekitarnya. Biopsi akan diperlukan untuk mengambil contoh jaringan yang kemudianakan diuji secara mikroskopik di laboratorium oleh ahli patologi.

tubular-carcinomaMammogram tubular carcinoma (www.gmrh.ch)

Ukuran Tumor dan Tingkat Kesembuhan

Tubular carcinoma biasanya berukuran kecil, dengan diameter sekitar 1 -2 cm dan tidak menyebar jauh dari titik awal pertumbuhan tumor. Meski mungkin terjadi, namun biasanya tubular carcinoma tidak menyebar lewat simpul limfe dan tidak menyerang simpul limfe, artinya kemungkinan mengganas (metastasis) menjadi lebih kecil. Peluang pulih dan bertahan hidup setelah penanganan tubular carcinoma sangat tinggi.

Penanganan Tubular Carcinoma

Lumpectomy (pembedahan untuk mengangkat tumor kecil dan jaringan di sekitarnya)
Wide Local Excision (WLE) (pembedahan untuk mengangkat tumor yang lebih besar dan setidaknya 1 cm jaringan di sekitarnya)
Radiation therapy (merupakan pilihan)
•Hormonal therapy

Sumber tulisan : www.breastcancer.org dan www.about.breastcancer.com

Paget’s Disease of the Nipple

my-boobies

Rekan semua, pada tulisan ini saya akan menguraikan jenis kanker payudara yang muncul bukan di bagian dalam payudara, namun di kulit payudara khususnya areola dan puting. Anda pernah mendengar Paget-s disease? Yuk, kita simak bersama…

Paget’s disease puting payudara muncul dalam bentuk penyakit kulit eksim (eczematous) yang menyerang areola dan puting. Muncul pada payudara wanita yang biasanya juga penderita invasive intraductal carcinoma. Paget’s disease muncul sekitar 1% - 2% dari seluruh kejadian kanker payudara.

Penyakit ini dimulai dengan timbulnya rasa gatal, serta sensasi seperti ditusuk-tusuk dan terbakar di salah satu puting. Paget’s disease biasanya bersifat unilateral atau hanya terjadi pada salah satu payudara. Area yang terserang eksim kemudian akan menjadi borok, mengerak, dan pecah-pecah, diikuti keluarnya cairan bercampur darah dari puting. Batas borok (luka) jelas sangat terlihat dengan bentuk tak beraturan. Puting akan tertarik ke dalam atau berubah bentuk.

pagetsPaget’s Disease Puting Payudara (www.medscape.com)

Diagnosis Paget’s Disease

Kondisi yang terjadi sering rancu dengan dermatitis, namun penyakit gatal-gatal (pruritus) yang berkaitan dengan dermatitis biasanya akan sembuh dengan pengobatan topical steroid, sedangkan Paget’s disease tidak. Limapuluh persen penderita Paget’s disease memiliki massa di payudara yang dapat diraba/dirasakan keberadaannya. Diagnosis dapat diketahui secara pasti dengan melakukan biopsy kulit yang mengandung sel tipikal Paget.

nippledermatitisDermatitis Puting Payudara (www.visualdxhealth.com)

Penanganan Paget’s Disease Puting Payudara

Radikal mastectomy merupakan penanganan bagi penderita Paget’s disease puting payudara. Tingkat kesembuhan secara umum baik, jika diketahui secara dini. Diperkirakan 98% penderita bertahan hidup 5 tahun setelah mastektomi dilakukan.

radical-mastectomyMastektomi Radikal (www.catalog.nucleusinc.com)

Sumber :
www.medscape.com
www.visualdxhealth.com

Inflammatory Breast Cancer

chinese

Rekan semua, satu lagi jenis kanker payudara yang gejalanya bukan berupa benjolan sebagai mana terjadi pada kanker payudara pada umumnya. jenis kanker payudara ini bersifat menyerang pembuluh getak bening dan menimbulkan peradangan payudara. Apakah kanker ini? Apa gejala dan bagaimana penanganannya? Berikut uraiannya…

Inflammatory breast cancer merupakan bentuk akselerasi atau percepatan kanke payudara yang biasanya tidak terdeteksi oleh mammogram atau USG.

Merupakan jenis kanker payudara yang jarang terjadi, hanya berkisar 1% - 3% dari seluruh kejadian kanker payudara. Penderita akan mengalami pembekakan dan peradangan payudara. Hal ini disebabkan oleh sel kanker yang menyumbat pembuluh limfe (getah bening) yang ada di bawah kulit payudara.

inflammatory2Inflammatory Breast Cancer (www.mayoclinic.com)

Gejala Inflammatory Breast Cancer

Berbeda dengan gejala kanker payudara pada umumnya, inflammatory breast cancer tidak menunjukkan gejala adanya benjolan. Penyakit muncul sebagai sarang atau lapisan yang menutup system limfe atau getah bening di bawah kulit. Kandang gejala yang muncul dianggap sebagai gejala penyakit lain, sehingga diagnosis seringkali membutuhkan waktu yang panjang.

Gejalanya meliputi:

  1. Nyeri payudara. Sering inflammatory breast cancer salah diagnosis dan dianggap sebagai infeksi payudara dan diberikan antibiotik sebagai pengobatannya. Jika selama satu minggu antibiotik tidak berpengaruh, biopsi akan dilakukan.
  2. Perubahan kulit di area payudara. Biasanya berubah menjadi merah atau merah jambu dengan tekstur dan ketebalan seperti kulit jeruk (peau d’orange).
  3. Memar payudara yang berlangsung terus menerus.
  4. Pembengkakan payudara secara tiba-tiba.
  5. Rasa gatal pada payudara.
  6. Puting tertarik ke dalam dan mengeluarkan cairan.
  7. Pembekakan simpul limfe di bawah ketiak atau di leher.
inflammatoryPerkembangan Inflammatory Breast Cancer dalam 4 bulan

Penanganan Inflammatory Breast Cancer

Inflammatory breast cancer adalah kanker agresif yang dapat menyebar secara cepat. Penanganannya meliputi:

  1. Pembedahan. Jika inflammatory breast cancer belum menyebar, mastektomi dapat dilakukan untuk mengangkat tumor. Namun perlu diketahui bahwa mastektomi akan meningkatkan peluang kembalinya kanker jenis ini karena inflammatory breast cancer terkait dengan simpul limfe di kulit dan kulit dijahit kembali setelah operasi pembedahan.
  2. Kemoterapi. Sering diberikan sebelum pembedahan atau disebut neoadjuvant therapy untuk mengurangi jumlah tumor yang ada serta mengurangi risiko kambuhnya kanker.
  3. Kemoterapi Dosis Tinggi/ Transplantasi Sumsum Tulang. Peneliti mempelajari pemberian kemoterapi dosis tinggi yang diikuti transplantasi sumsum tulang atau sel inti (bone marrow or stem cell transplantation) untuk menangani inflammatory breast cancer.
  4. Radiasi. Seringkali radiasi diberikan setelah kemoterapi dan atau pembedahan

Sumber: www.medicinenet.com

13 Cara Cegah Kanker Payudara

lezaat

Bagaimana sih, mencegah kanker payudara? Penyakit yang menakutkan seringkali membawa kita untuk berfikir bahwa pencegahannyapun juga rumit dan sulit dilakukan. Apa benar? Yuk simak tulisan berikut ini.

Penelitian baru-baru ini menunjukkan bahwa kanker payudara menjadi perhatian kesehatan nomor satu bagi wanita di Inggris. Tetapi statistik juga menunjukkan sembilan dari sepuluh penderita ingin merubah gaya hidup mereka untuk mengurangi resiko penyakit itu.

Ada langkah-langkah tertentu yang setiap wanita dapat lakukan untuk membantu mengurangi kemungkinan berkembangnya kanker payudara. Berikut 10 tips yang dapat membantu pencegahan kanker payudara:

1. Kesadaran akan payudara itu sendiri
Lebih dari 90% tumor payudara dideteksi oleh wanita itu sendiri. Perhatikan setiap perubahan pada payudara menjadi bagian penting perawatan k esehatan wanita. Saat ini, wanita disarankan untuk breast aware? Ini berarti wanita harus tahu seperti apa payudara mereka di depan cermin, dan rasakan saat mandi atau terlentang pada periode berbeda setiap bulan sehingga jika ada perubahan yang tidak normal dapat diketahui segera.

2. Berikan ASI pada bayi
Beberapa penelitin menunjukkan ada hubungan antara pemberian ASI dan menurunnya resiko berkembangnya kanker payudara meskipun belum ada kesepakatan yang jelas akan hal ini. Para peneliti mengklaim bahwa lebih muda dan lebih lama seorang ibu memberikan ASI pada bayinya adalah semakin baik. Hal ini didasari pada teori bahwa kanker payudara berkaitan dengan hormon estrogen. Pemberian ASI secara berkala akan mengurangi tingkat hormon tersebut.

3. Jika menemukan gumpalan, segera ke dokter
Penelitian menunjukkan banyak wanita menunda untuk ke dokter jika mereka menemukan gumpalan pada payudaranya, mereka takut memiliki kanker. Ini adalah hal terburuk yang mereka lakukan. Jika menemukan gumpalan, segera konsultasi ke dokter karena ini akan membantu menenangkan pikiran. Jika gumpalan tersebut adalah kanker, segera lakukan pengobatan yang tepat untuk menyelamatkan jiwa.

4. Cari tahu apakah ada sejarah kanker payudara pada keluarga
Masih perlu banyak penelitian untuk memahami secara menyeluruh semua
penyebab kanker payudara. Tetapi satu hal yang perlu untuk diyakini adalah
faktor gen. Faktor ini setidaknya sebanyak 10% dari semua kasus kanker
payudara. Hal ini dianggap satu dalam 500 orang membawa gen yang dapat
membuat mereka diduga memiliki penyakit tersebut.

5. Perhatikan konsumsi alkohol
Dalam sejumlah penelitian, alkohol memiliki kaitan dengan kanker. Hal ini
didasari pada kenyataan bahwa alkohol meningkatkan estrogen.

6. Perhatikan berat badan
Obesitas nampaknya dapat meningkatkan resiko kanker payudara. Para
peneliti menemukan wanita dengan berat 44 sampai 55 pound setelah umur 18 sebanyak 40% memiliki resiko lebih tinggi terkena kanker dibanding mereka yang berubah-ubah hanya 4 atau 5 pound semasa remajanya.

7. Olahraga secara teratur
Beberapa penelitian menyarankan bahwa olahraga dapat menurunkan resiko
kanker payudara. Hal ini karena penelitian menunjukkan bahwa semakin
kurang berolahraga, semakin tinggi tingkat esrogen dalam tubuh.

8. Kurangi makanan berlemak
Ada banyak perdebatan tentang hubungan kanker payudara dengan diet. Tetapi ada bukti bahwa gaya hidup barat tertentu nampaknya dapat meningkatkan resiko penyakit. Pertahankan asupan makanan rendah lemak, tidak melebihi 30 gram lemak per hari. Hal ini akan membantu mempertahankan diet seimbang yang juga membantu menjaga berat badan. Kita menyimpan estrogen di lemak tubuh, jadi lebih sedikit lemak yang kita bawa, lebih baik.

9. Setelah usia 50 tahun, lakukan screening payudara secara teratur
Meskipun masih diperlukan banyak penelitian untuk menentukan penyebab
kanker payudara, satu dari faktor utama penyebab adalah faktor usia.
80% kanker payudara terjadi pada wanita berumur diatas 50 tahun.

10.Belajar relaks
Banyak tercatat bahwa stres dapat menyebabkan semua jenis masalah
kesehatan. Meskipun masih banyak perdebatan atas temuan ini, menurunkan tingkat stres akan menguntungkan untuk kesehatan secara menyeluruh, termasuk resiko kanker payudara.

11. Masukkan brokoli ke dalam menu harian Anda.
Kira-kira dalam sehari Anda hanya membutuhkan secangkir brokoli. Tahukah Anda, brokoli mengandung senyawa sulfuraphane yang secara ilmiah terbukti mengurangi risiko kanker.

12. Jangan lupakan buah dan sayur dalam menu harian.
Pilihlah sayuran berwarna hijau dan oranye. Makanlah tomat yang kaya dengan likopen. Konon likopen juga agen yang berfungsi memerangi kanker.

13. Minumlah teh hijau yang kaya antioksidan.
Disamping minum the hijau, kudaplah dark chocolate sesekali, karena secara ilmiah terbukti cokelat sebagai agen yang memerangi kanker. Namun ingat jangan cokelat manis, karena Anda tidak akan mendapat manfaatnya.

Ternyata mencegah kanker payudara itu tidak selalu mahal, dengan bergaya hidup yang sehat serta mengkonsumsi makanan kaya serat, secara langsung kita telah melakukan pencegahan terhadap penyakit yang menakutkan ini. Hal lain yang juga patut dicatat adalah disiplin diri… ;)

Faktor Risiko Kanker Payudara

pegang2-tetek

Rekan semua, kanker payudara memiliki potensi muncul khususnya pada wanita yang memiliki faktor risiko tertentu. Apakah sajakah itu? Berikut tulisannya…

Faktor risiko menurut Moningkey dan Kodim, penyebab spesifik kanker payudara masih belum diketahui, tetapi terdapat banyak faktor yang diperkirakan mempunyai pengaruh terhadap terjadinya kanker payudara diantaranya:

1. Faktor reproduksi
Karakteristik reproduktif yang berhubungan dengan risiko terjadinya kanker payudara adalah nuliparitas, menarche pada umur muda, menopause pada umur lebih tua, dan kehamilan pertama pada umur tua. Risiko utama kanker payudara adalah bertambahnya umur. Diperkirakan, periode antara terjadinya haid pertama dengan umur saat kehamilan pertama merupakan window of initiation perkembangan kanker payudara. Secara anatomi dan fungsional, payudara akan mengalami atrofi dengan bertambahnya umur. Kurang dari 25% kanker payudara terjadi pada masa sebelum menopause sehingga diperkirakan awal terjadinya tumor terjadi jauh sebelum terjadinya perubahan klinis.

2. Penggunaan hormon
Hormon estrogen berhubungan dengan terjadinya kanker payudara. Laporan dari Harvard School of Public Health menyatakan bahwa terdapat peningkatan kanker payudara yang bermakna pada para pengguna terapi estrogen replacement. Suatu metaanalisis menyatakan bahwa walaupun tidak terdapat risiko kanker payudara pada pengguna kontrasepsi oral, wanita yang menggunakan obat ini untuk waktu yang lama mempunyai risiko tinggi untuk mengalami kanker ini sebelum menopause.

3. Penyakit fibrokistik
Pada wanita dengan adenosis, fibroadenoma, dan fibrosis, tidak ada peningkatan risiko terjadinya kanker payudara. Pada hiperplasis dan papiloma, risiko sedikit meningkat 1,5 sampai 2 kali. Sedangkan pada hiperplasia atipik, risiko meningkat hingga 5 kali.

4. Obesitas
Terdapat hubungan yang positif antara berat badan dan bentuk tubuh dengan kanker payudara pada wanita pasca menopause. Variasi terhadap kekerapan kanker ini di negara-negara Barat dan bukan Barat serta perubahan kekerapan sesudah migrasi menunjukkan bahwa terdapat pengaruh diet terhadap terjadinya keganasan ini.

5. Konsumsi lemak
Konsumsi lemak diperkirakan sebagai suatu faktor risiko terjadinya kanker payudara. Willet dkk., melakukan studi prospektif selama 8 tahun tentang konsumsi lemak dan serat dalam hubungannya dengan risiko kanker payudara pada wanita umur 34 sampai 59 tahun.

6. Radiasi
Eksposur dengan radiasi ionisasi selama atau sesudah pubertas meningkatkan terjadinya risiko kanker payudara. Dari beberapa penelitian yang dilakukan disimpulkan bahwa risiko kanker radiasi berhubungan secara linier dengan dosis dan umur saat terjadinya eksposur.

7. Riwayat keluarga dan faktor genetik
Riwayat keluarga merupakan komponen yang penting dalam riwayat penderita yang akan dilaksanakan skrining untuk kanker payudara. Terdapat peningkatan risiko keganasan ini pada wanita yang keluarganya menderita kanker payudara. Pada studi genetik ditemukan bahwa kanker payudara berhubungan dengan gen tertentu. Apabila terdapat BRCA 1, yaitu suatu gen suseptibilitas kanker payudara, probabilitas untuk terjadi kanker payudara sebesar 60% pada umur 50 tahun dan sebesar 85% pada umur 70 tahun.

Badan kesehatan dunia (WHO) menyebutkan 8-9 persen wanita akan mengalami kanker payudara dalam hidupnya. Kanker payudara bisa disebabkan oleh banyak hal, walaupun sebenarnya penyebab kanker hanya bersandar pada faktor risiko saja, penyebab langsungnya belum diketahui pasti. Meski begitu, dengan menjauhi faktor risikonya, risiko terkena kanker pun berkurang.

Para ahli kanker dunia baru-baru ini menerbitkan laporan mengenai penyebab dan pencegahan kanker dalam buku berjudul Food, Nutrition, Physical Activity, and the Prevention of Cancer: A Global Perspective.

Untuk kanker payudara, antara lain disebutkan ukuran bayi saat dilahirkan ikut berpengaruh pada risiko kanker payudara. Hal ini antara lain karena penumpukan lemak tubuh sudah terjadi sejak seseorang dilahirkan. Para ahli berpendapat lemak yang menumpuk akan mempengaruhi hormon yang pada akhirnya membuat sel-sel tumbuh menjadi tidak normal dan menjadi kanker.

Faktor lainnya adalah periode menstruasi, yakni mendapat menstruasi pertama lebih awal (kurang dari 11 tahun) atau terlambat memasuki menopause (di atas usia 60 tahun). Wanita yang mengalami kondisi itu akan mempunyai paparan hormon reproduksi estrogen lebih lama dalam hidupnya sehingga potensi tumbuhnya kanker juga lebih besar

Faktor yang juga meningkatkan risiko untuk kanker nomor dua terbanyak diderita wanita Indonesia ini antara lain faktor keturunan, usia yang makin bertambah, tidak memiliki anak, serta kehamilan pertama di atas 30 tahun.

Bagi wanita yang memiliki faktor risiko di atas memang perlu waspada, antara lain dengan melakukan pemeriksaan kesehatan secara teratur. Pemeriksaan secara rutin tahap awal bisa dilakukan sendiri di rumah. Caranya dengan meraba payudara dan daerah di bawah ketiak untuk menemukan benjolan. Kanker payudara juga bisa dideteksi dengan USG dan mamografi untuk wanita yang berusia 35 tahun ke atas.

Dalam laporan tersebut juga disebutkan, jika dikelola dengan baik sebenarnya kita bisa mengurangi risiko kanker payudara. Misalnya dengan menjalankan gaya hidup sehat, misalnya rutin berolahraga, menjauhi rokok dan alkohol, serta makanan berlemak. Menyusui juga direkomendasikan untuk mengurangi risiko munculnya kanker payudara.

Sumber: Wikipedia dan Kompas Cyber

Penggemar BBQ Rentan Kanker Payudara

bbq

Membayangkan daging barbeque…! Uiiih! Lezatnya, makan bareng teman dalam acara barbeque-party di taman belakang. Asapnya…aromanya…bikin nggak tahan! Namun dibalik godaan yang dipersembahkannya, tersembunyi ancaman bahaya jika kita terlalu banyak mengkomsumsi daging bakar ini. Selain telah terbukti menjadi penyebab terbesar penyakit kanker usus di Amerika Serikat, ternyata juga menjadi penyebab kanker payudara, khususnya bagi wanita paruh baya.

Perempuan menopause yang menggemari daging bakar (barbeque) dan daging asap berisiko terkena kanker payudara, sehingga disarankan agar juga lebih banyak makan buah dan sayuran, saran suatu penelitian baru.

Dr Susan E Steck dari University of South Carolina, Columbia, dan rekan-rekannya menemukan bahwa perempuan menopause yang selama hidupnya banyak makan daging panggang, daging asap atau daging bakar, punya risiko 47 persen lebih tinggi terkena kanker payudara.Penelitian itu juga menunjukkan para penyuka daging yang jarang makan buah dan sayuran punya risiko 74 persen lebih tinggi terkena kanker payudara.

Perempuan menopause yang belum lama menjadi penyuka daging tidak terdeteksi punya hubungan dengan kanker payudara. Para peneliti juga tidak menemukan hubungan yang kuat antara lama tidaknya menjadi pemakan daging dengan kanker payudara pada perempuan yang belum mengalami menopause. Temuan itu “mendukung pedoman pencegahan kanker yang saat ini direkomendasikan” yaitu makan lebih banyak hasil tanaman dan mengurangi makan daging olahan atau daging merah, kata Steck dalam wawancara dengan “Reuters Health”.

Di sisi lain, dia memperingatkan, penelitian tersebut telah menemukan adanya hubungan erat, meski tidak secara nyata, yang menunjukkan bahwa daging masak adalah penyebab kanker. Faktor-faktor lainnya mungkin juga menjadi penyebab, misalnya kandungan lemak yang tinggi pada produk-produk daging tersebut.

Polisiklik aromatik hidrokarbon dan heterosiklik amino dikenal sebagai karsinogen yang berasal dari daging yang dimasak pada suhu tinggi, tulis Steck dan timnya dalam laporan mereka. Polisiklik aromatik hidrokarbon terdapat di daging panggang, daging bakar dan daging asap (juga di banyak makanan lainnya). Teristimewa daging goreng dan daging panggang, mengandung heterosiklik amino berkadar tinggi.

Waaah, makan sayur lebih sehat dan juga murah… :)

Pasca-Menopause dan Risiko Kanker Payudara

nenek-cantik

Rekan semua, seorang wanita yang telah memasuki masa menopause, berarti hidup dengan kondisi hormonal yang jauh berbeda dibandingkan saat masih mengalami menstruasi.

Tidak aktifnya ovarium dalam proses pematangan sel telur, menyebabkan level estrogen yang rendah. Ternyata, kondisi ini berpengaruh terhadap daya tahan tubuh seorang wanita yang menopause ini dikaitkan dengan risiko kanker payudara.

Jumlah penderita kanker payudara di Indonesia menempati urutan kedua setelah kanker leher rahim. Penderitanya pun ada yang baru berusia 18 tahun. Padahal di negara-negara lain, Eropa atau Amerika misalnya, jumlah penderita kanker payudara tidak begitu banyak dibanding dengan jumlah penderita kanker jenis lain.

Nah..jika berat badan anda terus bertambah. Apalagi menjelang menopause, Anda perlu berhati-hati. Karena, berdasarkan hasil penelitian Dr. A. Heather Eliassen, dari Rumah Sakit Perempuan di Boston dan Brigham menunjukkan adanya hubungan antara berat badan dan peningkatan risiko kanker payudara.

Ia dan timnya mendapati bahwa risiko terserang kanker payudara pada perempuan yang berat badannya bertambah 25 kilogram adalah 45% lebih tinggi dibandingkan mereka yang beratnya stabil.


Pada 2002 saja terdapat 2.376 kasus kanker payudara di kalangan subyek pascamenopause yang berat badannya naik 10 kilogram atau lebih setelah menopause. Di kalangan perempuan yang kehilangan sedikitnya 10 kilogram berat badan sebelum menopause, risiko tersebut turun 16%.

Sementara, perempuan yang kehilangan sedikitnya 10 kilogram berat badan setelah menopause menghadapi peningkatan risiko sebesar 23%. Masalahnya, menurut penelitian tak banyak perempuan kehilangan berat badan setelah menopause.

Untuk itu, sebaiknya anda rajin memeriksa payudara. Dengan demikian anda akan semakin mengenalnya, dan semakin mudah menemukan sesuatu yang berbeda dari biasanya.

Senin, 21 September 2009

Lobular Carcinoma In Situ (LCIS)

kanker-2-tetek

Rekan semua, satu persatu jenis kanker payudara akan saya uraikan dalam beberapa tulisan ke depan. Mungkin anda masih ingat pada tulisan saya terdahulu, bahwa Kanker payudara berdasar sifatnya serangannya, terbagi menjadi 2 (dua), yaitu kanker payudara non-invasif dan kanker payudara invasif.

1. Kanker Payudara Non-Invasif
Sel kanker terkunci dalam saluran susu dan tidak menyerang lemak dan jaringan konektif payudara di sekitarnya. Ductal carcinoma in situ (DCIS), merupakan bentuk kanker payudara non-invasif yang paling umum terjadi (90%). Lobular carcinoma in situ (LCIS) meski lebih jarang, justru perlu lebih diwaspadai karena merupakan tanda meningkatnya risiko kanker payudara.

2.Kanker Payudara Invasif
Sel kanker merusak saluran dan dinding kelenjar susu serta menyerang lemak dan jaringan konektif payudara di sekitarnya. Kanker dapat bersifat invasif (menyerang) tanpa selalu menyebar (metastatic) ke simpul limfe atau organ lain dalam tubuh.

Pada tulisan kali ini saya mulai dengan satu jenis kanker payudara non-invasif yang disebut Lobular Carcinoma In Situ (LCIS).

Secara literature “in situ” berarti “berada di tempat” merujuk pada bentuk paling awal dari sebuah kanker. Secara umum istilah “in situ” digunakan untuk mengindikasi sel kanker abnormal yang muncul tapi tidak menyebar ke seluruh jaringan payudara dan masih berada di tempat sel abnormal tersebut pertama kali tumbuh. Lobular carcinoma in situ (LCIS) merujuk pada pertumbuhan nyata dari sel, terlihat, dan berperilaku abnormal, yang tumbuh di dalam lobules kelenjar susu.

lcis1

Meski dikategorikan kanker payudara stadium 0 (tahap paling awal), LCIS belum dikatakan sebagai kanker. Namun lebih dikatakan sebagai “penanda” (sebuah sinyal) bahwa kanker payudara dapat berkembang.

Pada saat ini LCIS telah diganti namanya dengan lobular neoplasia untuk lebih meyakinkan. Neoplasia didefinisikan sebagai sebuah pertumbuhan abnormal sejumlah sel. Meski LCIS tidak dikategorikan sebagai kanker, wanita yang didiagnosa mengidap LCIS (yang juga disebut lobular neoplasia) berada pada tingkat risiko tinggi tumbuhnya kanker payudara di sepanjang hidupnya.

Mengacu pada National Cancer Institute, Amerika Serikat, seorang wanita dengan LCIS memiliki peluang 25% munculnya kanker invasive (lobular atau lebih umum sebagai infiltrating ductal carcinoma) sepanjang hidupnya.
Jumlah wanita yang didiagnosa mengidap LCIS telah meningkat dalam beberapa tahun belakangan ini. Hal ini dimungkinkan Karena pemerikasaan yang semakin ketat terhadap kanker payudara juga kecanggihan teknik mammografi. Sering LCIS ditemukan dengan tidak sengaja saat uji patologis dilakukan terhadap jaringan payudara.

Penanganan LCIS
Pilihan tindakan bagi wanita dengan LCIS:
1. Pemantauan melekat (meliputi uji klinis berkala, mamografi berkala, dan sadari-periksa payudara sendiri-bulanan),
2. Mengkonsumsi obat tamoxifen, agen hormonal selama periode 5 tahun,
3. Dengan izin dan persetujuan dokter, dapat melalakukan kombinsi pengobatan dengan gabungan tamoxifen and raloxifene.
4. Mastektomy bilateral preventif (preventive or prophylactic bilateral mastectomy), yang biasanya diikuti dengan rekonstruksi payudara.

Apa itu Prophylactic Mastectomy?
Beberapa wanita dengan LCIS yang sangat memperhatikan perkembangan kanker payudara karena memiliki sejarah keluarga pengidap kanker payudara, biasanya memilih untuk melakukan operasi pengangkatan payudara yang bersifat preventif. Prosedur ini disebut prophylactic mastectomy.

Dari hasil riset, terlihat bahwa prophylactic mastectomy memberi pengurangan yang sangat besar terhadap seorang wanita dengan tingkat risiko yang tinggi untuk terkena kanker payudara. Prophylactic mastectomy akan diikuti dengan operasi rekonstruksi payudara.

Apa itu tamoxifen?
Opsi atau pilihan mengurangi risiko kanker payudara bagi wanita dengan LCIS dengan obat juga ada. Tahun 2007 di Amerika Serikat, berdasar uji klinis yang dilakukan peneliti dari National Surgical Adjuvant Breast and Bowel Project (NSABP) dengan memberikan tamoxifen pada 13,388 wanita. Hasilnya 49% dari wanita tersebut mengalami penurunan faktor risiko kanker payudara. Uji dilakukan pada wanita dengan sejarah keluarga pengidap kanker, mengalami hyperplasia atipikal, pertambahan abnormal sel payudara, didiagnosa kanker pada saat melakukan biopsy.

Dengan hasil NSABP tersebut U.S. Food and Drug Administration (FDA) menyetujui digunakannya tamoxifen pada wanita dengan risiko tinggi kanker payudara. Wanita dengan LCIS disarakan mengkonsumsi tamxifen serta berkonsultasi secara mendalam dengan dokternya.

Sumber:
http://www.breastcancer.com
http://www.breastcancer.org
http://www.imaginis.com

Ductal Carcinoma In Situ (DCIS)

duduk-pegang-kaki

Rekan semua, pada tulisan sebelumnya, saya telah uraikan kanker non-invasif yang berkembang dalam kelenjar susu yang disebut Lobular Carcinoma In Situ (LCIS). Pada tulisan kali ini, saya akan mengupas tentang satu jenis lain dari kanker payudara non invasif lainnya. Kanker ini tumbuh berkembang dalam saluran susu dan disebut Ductal Carcinoma In Situ (DCIS). Apa saja tanda dan gejalanya? Diagnosa dan penanganannya? Yuk kita simak bersama…

Merupakan tipe kanker payudara non-invasif yang paling umum terjadi, DCIS seringkali terdeteksi pada mammogram sebagai microcalcifications (tumpukan kalsium dalam jumlah kecil). Dengan deteksi dini, rerata tingkat bertahan hidup penderita DCIS mencapai hampir 100%, dengan catatan, kanker tidak menyebar dari saluran susu ke jaringan lemak payudara dan bagian lain dari tubuh. Terdapat beberapa tipe DCIS. Sebagai contoh, ductal comedocarcinoma, yang merujuk pada DCIS dengan necrosis (area dengan sel kanker yang mati atau mengalami degenerasi).

Ductal carcinoma in situ (DCIS) adalah sebuah kondisi yang muncul dalam beberapa bentuk. Dan kesamannya adalah terdapat perubahan sel di sepanjang saluran susu. Di bawah mikroskop, saluran yang normal terdiri satu lapis sel, tapi pada DCIS, terdapat lebih banyak sel. Terkadang sel-sel tersebut memenuhi saluran, seperti terlihat pada gambar di bawah ini. Pada beberapa wanita DCIS ditemukan hanya pada beberapa saluran susu, tetapi pada wanita yang lain, diketahui menyerang hampir seluruh system saluran susu yang ada di payudara.

dcis1

Ductal carcinoma in situ, juga disebut intraductal cancer, merujuk pada sel kanker yang telah terbentuk dalam saluran dan belum menyebar. Saluran menjadi tersumbat dan membesar seiring bertambahnya sel kanker di dalamnya. Kalsium cenderung terkumpul dalam saluran yang tersumbat dan terlihat dalam mamografi sebagai kalsifikasi terkluster atau tak beraturan (clustered or irregular calcifications) atau disebut kalsifikasi mikro (microcalcifications) pada hasil mammogram seorang wanita tanpa gejala kanker.

DCIS dapat menyebabkan keluarnya cairan puting atau munculnya massa yang secara jelas terlihat atau dirasakan, dan terlihat pada momografi. DCIS kadang ditemukan dengan tidak sengaja saat dokter melakukan biopsy tumor jinak. Sekitar 20%-30% kejadian kanker payudara ditemukan saat dilakukan mamografi. Jika diabaikan dan tidak ditangani, DCIS dapat menjadi kanker invasif dengan potensi penyebaran ke seluruh tubuh.

DCIS muncul dengan dua tipe sel yang berbeda, dimana salah satu sel cenderung lebih invasif dari tipe satunya. Tipe pertama, dengan perkembangan lebih lambat, terlihat lebih kecil dibandingkan sel normal. Sel ini disebut solid, papillary atau cribiform. Tipe kedua, disebut comedeonecrosis, sering bersifat progresif di awal perkembangannya, terlihat sebagai sel yang lebih besar dengan bentuk tak beraturan. Karena berkembang dengan cepat, sel ini cenderung butuh gula dan oksigen yang lebih banyak.

Meski tidak dikategorikan sebagai kanker karena masih bersifat “in situ”, namun bila kondisi ini dibiarkan tanpa penanganan yang tepat, kemungkinan menyebar dapat terjadi, dan akhirnya menjadi “kanker-invasif sungguhan”. Kita tidak dapat memprediksi hal tersebut kapan terjadi. Karenanya, penanganan DCIS haruslah sangat cermat, tepat, dan bagus, agar hasilnya juga bagus, khususnya untuk mencegah munculnya kanker payudara invasif.

Diagnosis dan Penanganan Ductal Carcinoma In Situ
Seiring semakin dikenalnya mammografi, DCIS lebih sering ditemukan dibandingkan di masa lalu. Semakin jarang wanita yang didiagnosis DCIS setelah mereka menemukan benjolan ataupun perubahan lain payudara seperti keluarnya cairan dari puting.

DCIS sering terlihat sebagai satu pola kalsifikasi (penumpukan kalsium) mikro dalam hasil mammogram. Meski bentuk dan ukuran kalsifikasi yang ada diduga sebagai DCIS oleh ahli radiology, pemeriksaan lebih lanjut masih diperlukan. Biasanya dokter akan menyarankan pasien melakukan core needle biopsy, dengan mengambil sedikit jaringan dengan jarum, dibawah pengaruh bius lokal. Contoh jaringan tersebut kemudian dikirim ke ahli patologi. Diagnosis juga dapat dilakukan dengan biopsy operasi terbuka.

Pengobatan DCIS bergantung dari kondisi tiap wanita. Penanganan yang sering dilakukan adalah mengangkat area DCIS dengan sedikit jaringan disekitarnya yang belum terserang. Selanjutnya, pengobatan secara radiologi disarankan untuk mematikan sel kanker yang diduga masih tersisa. Namun, terapi radiasi ini memiliki efek samping yang harus dipahami oleh setiap pasien sebelum melakukannya.

Setelah operasi pengangkatan sempurna dilaksanakan, dengan atau tanpa terapi radiasi, tetap ada risiko munculnya kembali DCIS. Kadang tetap bersifat “in situ”, namun tidak jarang justru menjadi kanker payudara yang bersifat invasif ( menyebar ke jaringan di luar saluran susu).

Untuk beberapa wanita, dokter menganjurkan untuk menjalani mastektomi (pengangkatan payudara yang terserang DCIS). Tidak ada penanganan lebih lanjut setelah mastektomi, dan risiko ke depan terkena kanker payudara juga hanya berkisar satu persen. Payudara yang sehat harus diperiksakan secara teratur dengan mamografi dan uji fisik.

Tindak lanjut
Setelah anda menjalani pengobatan DCIS, anda mungkin akan disarankan untuk lebih sering melakukan mammogram dan uji fisik secara reguler dari sebelumnya. Dokter juga akan menyarankan anda untuk lebih perhatian kepada setiap perubahan yang terjadi pada payudara.

Terapi tamoxifen akan disarankan setelah DCIS terdiagnosis dan diobati. Tablet ini harus dikonsumsi selama 5 tahun. Tamoxifen telah terbukti memiliki peran dalam menangani kanker payudara invasif, dan sekarang ada uji klinis yang mengidikasikan tamoxifen dapat mengobati DCIS.

Terapi Sulih Hormon
Wanita yang didiagnosis mengidap DCIS mungkin juga harus berpikir tentang terapi sulih hormon atau hormone replacement therapy (HRT), jika mereka mendapat DCIS saat menopause. Meski risikonya belum jelas, manfaat HRT dapat dirasakan wanita yang menjalaninya. Jika ada ingin melakukan HRT, diskusikan kondisi anda dengan dokter anda. Khususnya, tentang dosis, lama waktu terapi, juga persiapan yang akan membantu mengatasi masalah yang muncul saat menopause.

Sumber :
http://www.cancervic.org.au

Invasive Lobular Carcinoma (ILC)

ilust-maluuu

Rekan semua, jika dalam dua tulisan terakhir saya membahas dua tipe kanker payudara berkategori non-invasif. Pada tulisan kali ini saya akan membahas satu jenis kanker payudara yang bersifat invasif. Dibandingkan dengan dua kanker terdahulu, kanker ini lebih berbahaya karena pertumbuhan sel kanker yang lebih cepat dan telah keluar dari kelenjar susu dimana pertama kali sel kanker ini tumbuh. Invasive lobular carcinoma (ILC) merupakan perkembangan dari lobular carcinoma in situ (LCIS) . Bagaimana detilnya? Yuk kita simak bersama…

Invasive lobular carcinoma atau juga sering disebut sebagai infiltrating lobular carcinoma, merupakan satu tipe kanker payudara yang berawal di kelenjar susu (lobules) dan kemudian menyerang jaringan disekitarnya. Sekitar 20.000 wanita didiagnosis terkena kanker payudara tipe ini setiap tahun di Amerika Serikat. Dari seluruh kejadian kanker, kejadian ILC mencapai 15% – 20%.

Dibandingkan dengan kanker payudara invasive lainnya yang umum terjadi yaitu invasive ductal carcinoma (IDC), Invasive Lobular Carcinoma lebih sulit terlihat pada mammogram. Meski ILC cenderung membesar saat didiagnosis, secara umum memiliki bentuk yang tidak menyeramkan dibandingkan IDC.

Secara fisik ILC akan muncul bukan dalam bentuk benjolan, tapi berupa penebalan area di payudara anda. Sel ILC cenderung akan merusak lobule dan kemudian menyerang jaringan payudara di sekitarnya dengan membuat bentuk semacam jaring-jaring. Area yang terserang akan memiliki tekstur yang berbeda dari jaringan payudara yang normal, dan cenderung tidak menajdi massa yang terpisah.

Hasilnya, sebuah invasive lobular carcinoma memiliki dimensi cukup lebar sekitar 2 sampai 5 cm, sebelum tanda atau gejalanya muncul. Gejala yang dapat terlihat adalah:
• Satu area penebalan pada satu bagian payudara
• Satu area baru pada payudara yang terlihat penuh atau bengkak
• Satu perubahan tekstur atau kondisi kulit payudara, seperti berkerut atau menebal
• Puting tertarik ke dalam (nipple retraction)

ILC akan dimulai saat sel pada satu atau lebih kelenjar susu mengalami pertumbuhan abnormal. Sel akan membelah dengan lebih cepat dari sel normal. Ketika sel abnormal masih tetap berada di dalam lobule, kondisi ini disebut lobular carcinoma in situ (LCIS). Kondisi ini merupakan penanda bahwa risiko kanker payudara seorang wanita meningkat. Ketika sel abnormal menembus keluar dari lobule dan menyerang jaringan di sekitarnya terjadilah ILC.

152_ilc_lobules

Sekitar separuh dari kejadian ILC, dipengaruhi faktor mutasi gen yang disebut E-cadherin (CDH1). Gen ini mengendalikan aktifitas satu jenis protein yang akan menjaga sel tumor tidak menyerang jaringan normal dan menyebar. Beberapa peneliti percaya bahwa padamnya E-cadherin membuat ILC berkembang. Saat lobular carcinoma terdiagnosa, ahli patologi akan meminta contoh protein E-cadherin pada jaringan yang terserang, untuk memastikan yang terjadi ILC atau LCIS.

Pemeriksaan dan Diagnosis
Diagnosis awal dari ILC dapat menjadi proses yang menantang. Hasil sinar-X jaringan payudara anda, mungkin tidak mendeteksi adanya ILC di awal perkembangannya.

Dokter mungkin akan melakukan mammogram atau USG untuk mengevaluasi abnormalitas yang ditemukan pada uji fisik atau terlihat pada hasil mammogram. USG menggunakan gelombang suara untuk membuat gambar struktur bagian dalam dari tubuh. USG cenderung lebih baik dibandingkan mamografi dalam mendeteksi ILC, namun dari sisi ukuran kadang tidak tepat.

Saat didiagnosis dan sebelum operasi dilakukan, dokter mungkin juga akan meminta dilakukannya magnetic resonance imaging (MRI) untuk mengevaluasi perkembangan kanker dan membantu dalam pengambilan keputusan operasi. MRI payudara menggunakan gelombang radio dan magnet untuk membuat gambar ‘interior’ payudara.

Diagnosis ILC secara pasti hanya dapat dilakukan dengan melakukan biopsy-mengambil contoh jaringan payudara untuk dianalisis di laboratorium. Jika hasil laboratorium menyatakan anda terkena ILC, langkah berikutnya adalah menentukan seberapa parah kanker anda – stadium, perkembangan, dan tingkat keparahannya.

Contoh sel kanker juga diperiksa ada tidaknya reseptor estrogen dan progesterone. ILC selalu diikuti kondisi yang disebut estrogen receptor positive, yang berarti pasien harus mendapat obat yang mengubah interaksi hormone dengan sel kanker.

Komplikasi
ILC dibandingkan IDC, cenderung lebih mungkin muncul pada kedua payudara, sekitar 20% wanita dengan ILC di salah satu payudaranya, akan mendapat ILC di payudaranya yang lain.

ILC cenderung lambat menyebar keluar payudara (metastasize). Jika menyebar, kemungkinan akan muncul di saluran pencernaan, dinding perut atau indung telur.

Penanganan dan Pengobatan
Penanganan ILC meliputi operasi pembedahan dan terapi tambahan, meliputi kemoterapi, terapi radiasi dan hormone. Saat operasi kanker payudara, simpul limfe di bawah ketiak juga akan dievaluasi dengan teknik simpul sentinel (sentinel node technique). Simpul limfe sentinel merupakan simpul limfe pertama yang menerima aliran cairan dari tumor payudara, jika hasilnya negative, maka kanker mungkin belum menyebar keluar payudara. Namun jika positif, dokter bedah akan berdiskusi untuk operasi pengangkatan simpul limfe. Prosedur ini dikenal dengan istilah axillary node dissection.

Jika ukuran tumor lebih besar dari payudara, dan anda ingin payudara tidak diangkat semua, dokter bedah akan menganjurkan anda menjalani kemoterapi sebelum pembedahan (neoadjuvant chemotherapy) untuk mengecilkan tumor. Setelah anda selesai menjalani kemoterapi, dokter bedah akan memutuskan pembedahan yang akan anda jalani.

Pembedahan
Terkadang dimungkinkan untuk mengangkat ILC pada stadium awal. Operasi bedah in dikenal dengan istilah lumpectomy atau irisan lokal lebar. Dokter bedah akan mengangkat tumor saja, dengan batas irisan jaringan normal disekitar tumor, untuk memastikan kanker telah terangkat semua. Batas negatif atau “clean” akan mengurangi peluang hidupnya kanker di payudara. Jika batas irisan positif, anda harus menjalami oerasi tambahan sampai batas negative diperoleh, atau bahkan jika terpasksa anda harus menjalani mastektomi atau pengangkatan payudara.

152_margins

Kemoterapi
Kemoterapi dilakukan dengan menggunakan obat untuk memusnahkan sel kanker. Penganganan ini sering menggunakan dua atau kebih kombinasi obat. Kemoterapi biasa dilakukan empat sampai delapan putaran dalam waktu tiga sampai enam bulan.

Radiasi
Setalah menjalani lumpectomy, terapi radiasi diberikan untuk membunuh sisa sel kanker yang ada dalam payudara dan di bawah ketiak anda. Terapi ini akan mengurangi peluang kanker datang kembali di area yang sama. Radiasi dilakan 30 kali dalam waktu lebih dari enam minggu dan dimulai sekitar tiga atau empat minggu setelah lumpectomy. Jika kemoterapi disarankan, maka anda akan menjalani kemoterapi dahulu, diikuti terapi radiasi.

Terapi Hormon
Terapi hormon, atau tepatnya terapi penghambatan hormone (hormone-blocking therapy)— biasa dilakukan untuk menangani ILC dengan reseptor estrogen positif. Terdapat dua kelas pengobatan yang digunakan dalam terapi hormone, yaitu selective estrogen receptor modulators (SERMs), seperti tamoxifen; dan aromatase inhibitors, seperti anastrozole (Arimidex), letrozole (Femara) or exemestane (Aromasin).

Mucinous Carcinoma of the Breast

Mucinous Carcinoma of the Breast

March 31st, 2009

shoulderRekan semua, saya lanjutkan kembali tulisan mengenai satu jenis lain dari kanker payudara yang berkategori ductal carcinoma, kanker yang muncul di saluran susu. Apa saja gejalanya? Bagaimana penanganannya? Berikut uraian singkatnya…

Mucinous carcinoma payudara — atau kadang juga disebut colloid carcinoma – merupakan satu bentuk dari invasive ductal carcinoma, seperti juga medullary carcinoma yang saya uraikan sebelumnya. Mucinous carcinoma terjadi 2-3% dari seluruh kejadian kanker payudara.

Mucinous (colloid) carcinoma merupakan salah satu tipe kanker payudara invasive yang terbentuk atas sel kanker dalam payudara yang memproduksi cairan/lendir/mukus/mucous. Cairan atau lendir ini mengandung sel kanker payudara yang secara mudah dapat dibedakan dari sel normal dan sehat ketika diperiksa di bawah mikroskop.

Cairan atau mucous dan sel kanker bersama-sama membentuk tumor seperti jelly. Kebanyakan payudara dengan mucinous carcinoma dalam kondisi estrogen-receptor positive dan HER2/neu negative. Kanker payudara jenis ini jarang menyebar ke simpul limfe (getah bening)

Kanker yang temasuk jarang terjadi ini sering rancu dengan kondisi ketidaknormalan mucinous yang disebut “mucocele-like tumor (MLT),” yang biasanya dibarengi terjadinya atypical ductal hyperplasia (ADH) atau ductal carcinoma in situ (DCIS). Untuk memastikan keduanya, diagnosis mucinous carcinoma dan mucocele-like tumor dilakukan dengan biopsy dan uji patologi mendalam.

Tanda dan Gejala Mucinous Carcinoma:

Tumor mucinous carcinoma di payudara akan dirasakan seperti balon air atau mirip dengan kista yang berisi cairan (bukan minyak). Tumor yang masih kecil, agak susah dideteksi dengan jari tangan, tetapi tumor yang lebih besar dapat diketahui dengan memencet jaringan payudara di sekitarnya. Selama anda melakukan pemeriksaan payudara dengan memijat payudara, ada akan merasakan adanya area yang tebal, sulit ditekan, berbada dengan area lain yang lebih lembut. Jika hal ini anda temukan, sebaiknya segeralah ke dokter.

Pemeriksaan dan Diagnosis Mucinous Carcinoma:

Mammogram dan MRI– Mucinous carcinoma pada payudara akan terlihat pada mammogram dan hasil MRI sebagai massa dengan batas-batas yang jelas, memiliki bentuk benjolan. Terkadang dapat terlihat sebagai tumor jinak.

mri-mucinousHasil MRI Mucinous Carcinoma (www.gfmer.ch)

Breast ultrasound – Kurang dari separuh kejadian mucinous carcinomas tertangkap pemeriksaan dengan breast ultrasound (USG), karena tumor yang lebih kecil cenderung bersembunyi di balik jaringan lemak payudara.
Open surgical biopsy – Contoh jaringan tumor akan diambil dan diuji secara spesifik karakteristiknya di laboratorium.

Tingkat Kesembuhan Penderita Mucinous Carcinoma:

Mucinous carcinoma payudara biasanya terjadi pada wanita usia lanjut (48-82 tahun) dan termasuk tipe kanker payudara dengan tingkat perkembangan sel masuk dalam golongan menengah sampai lemah (medium- to- low-grade slow-growing type of breast cancer).

Karena dikategarikan bukan kanker agresif, maka jika anda didiagnosis menderita mucinous carcinoma, tingkat kesembuhan dan peluang bertahan hidup anda akan lebih baik dibandingkan dengan jika terkena kanker payudara invasif lainnya. Sebuah penelitian telah dilakukan di Australia bagian Barat, dan ditemukan bahwa hampir semua kasus mucinous carcinoma tidak memperlihatkan penyebaran ke simpul limfe ataupun bagian tubuh lainnya.

Penanganan Mucinous Carcinoma:

Mucinous carcinoma harus ditangani dengan baik untuk mencegah kembalinya kanker tersebut. Penanganan tersebut meliputi:
•Lumpectomy (pembedahan untuk mengangkat tumor dan jaringan payudara disekitarnya )
•Mastectomy (pembedahan untuk mengangkat seluruh jaringan payudara)

mastectomywww.revolutionhealth.com

•Radiation
•Hormone Therapy (untuk kanker dengan sensitifitas hormonal)

Sumber: American Cancer Society

Lumpektomi, Pengangkatan Tumor Payudara

pink_ribbon

Rekan semua, tumor payudara merupakan satu bentuk ketidaknormalan perkembangbiakan sel yang ada di dalam jaringan payudara. Tumor (benjolan) ini meski ada yang bersifat jinak, namun jika semakin membesar, akan lebih baik jika diangkat untuk diketahui secara tepat dan lebih awal apakah benar jinak atau ganas. Lumpektomi merupakan tindak lanjut dari hasil biopsi yang saya uraikan pada tulisan terdahulu. Siapa wanita yang dapat dan tidak dapat menjalani lumpektomi? Bagaimana prosedur sebelum, saat, dan sesudah operasi? Pada tulisan ini saya coba uraikan secara ringkas berikut ilustrasinya, yang mungkin bagi sebagian rekan akan sedikit mengerikan. Namun saya lakukan ini agar rekan semua semakin peduli untuk merawat payudara dan memperhatikan kesehatannya. Yuk kita simak bersama…

Lumpektomi (lumpectomy) merupakan tindak operasi penyelamatan payudara, dengan mengambil/mengangkat tumor (benjolan) bersama jaringan normal payudara di sekitarnya. Prosedur penyelamatan payudara dapat dilakukan dengan anestesi (bius) lokal ataupun total .

Wanita yang dapat menjalani operasi lumpektomi adalah wanita yang:

  1. Memiliki tumor tunggal dengan diameter kurang dari 5 cm,
  2. Memiliki cukup jaringan normal sehingga pengangkatan tidak menghilangkan payudara,
  3. Secara medis layak menjalani operasi pembedahan dan terapi radiasi lanjutan.

Lumpektomi biasanya akan diikuti dengan terapi radiasi yang merupakan standar terapi untuk wanita dengan kriteria seperti diatas. Penelitian lebih besar menunjukkan bahwa wanita yang menjalani penyelamatan payudara dengan terapi radiasi dan pengangkatan payudara secara menyeluruh memiliki tingkat bertahan hidup yang hampir sama . Namun, lumpektomi lebih memberikan hasil kosmestik (penampilan) payudara yang lebih baik.

Wanita yang tidak boleh menjalani lumpektomi adalah wanita yang:

  1. Memiliki tumor jamak (banyak) dalam satu payudara,
  2. Menjalani terapi radiasi payudara untuk penanganan awal kanker payudara,
  3. Sedang hamil, sehingga harus menghindari terapi radiasi.

Prosedur Pembedahan

Bedah lumpektomi dilakukan dibawah anestesi (bius) lokal ataupun total dan membutuhkan waktu antara satu sampai dua jam. Penjepit metalik kecil akan dimasukkan untuk memberi tanda area serta mempermudah terapis melakukan perawatan. Simpul limfe (getah bening) juga akan diperiksa saat itu juga, saat jaringan payudara diangkat. Irisan akan dilakukan di bawah ketiak atau dengan membuat irisan terpisah di bawah tangan.

lumpectomy2Prosedur Lumpektomi, Persiapan, Pembedahan, Pengangkatan Tumor, dan Penutupan
(sumber : http://www.airahospital.org)

Cairan biru atau zat radioaktif akan disuntikkan di sekitar puting. Zat tersebut akan diserap simpul limfe dan akan membantu mengidentifikasi simpul limfe mana yang harus diangkat . Prosedur ini juga disebut sebagai biopsy simpul limfe sentinel (sentinel lymph node biopsy).

breast-and-lymphPosisi Payudara dan Simpul Limfe (Getah Bening)

Untuk memberikan gambaran proses lumpektomi secara lebih jelas, silakan lihat videonya disini.

Jaringan yang diangkat akan dikirim ke laboratorium patologi dan diuji untuk mengidentifikasikan tipe tumor, simpul limfe yang telah mengandung sel tumor, serta menguji tumor terhadap sensitivitas hormonal (reseptor estrogen dan progesterone).

Pengujian khusus juga dilakukan untuk mengidentifikasi tingkat kesembuhan dan penanganan seperti uji HER2 dan oncotyping. Oncotype adalah uji diagnostik dilakukan pada stadium awal kanker. Uji ini akan menunjukkan kualifikasi kemungkinan munculnya kembali kanker payudara serta menentukan tipe kemoterapi yang cocok. Hasilnya akan didapatkan beberapa hari setelah pengujian.

Sebelum operasi dilakukan, dokter akan mempersiapkan:

  1. Penjelasan dan gambaran prosedur pembedahan,
  2. Informasi tentang pemulihan dan perawatan lanjutan.

Setelah pembedahan, pasien wajib memantau terjadinya komplikasi seperti infeksi atau lymphedema (pembengkakan lengan dan tangan). Segera laporkankepada dokter jika terjadi komplikasi yang ditandai adanya pembengkakan, pengumpulan cairan, kemerahan, atau tanda lain infeksi.

lymphedemaPenderita Lymphedema, Sebelum dam Sesudah Perawatan

Setelah menjalani operasi payudara, seorang wanita harus menjaga kondisi tubuhnya. Tidak boleh mengangkat barang dengan tangan pada sisi yang sama dengan payudara yang dioperasi setidaknya satu tahun. Kondisi tubuh harus tetap bersih, tidak boleh lembab dan dan harus terhindar dari luka.

Hal ini menjadi lebih kritis bila terjadi komplikasi lymphedema atau penumpukan cairan limfe karena simpul dan pembuluh limfe yang tersumbat/rusak akibat operasi. Cairan limfe atau getah bening merupakan cairan yang sangat kaya dengan protein, sehingga jika terjadi luka akan sangat cepat mengalami proses pembusukan. Lymphedema tidak jarang menimbulkan kematian.

Makanan Sehat Untuk Payudara

vegie1

Rekan semua, saat ini secara pasti masih belum diketahui cara untuk dapat mencegah kanker payudara. Semua pihak berusaha untuk menemukan cara mengurangi risiko penyakit ini. Penelitian medis secara luas berusaha menemukan perbaikan pola hidup yang diyakini sebagai cara ampuh mengurangi risiko kanker payudara juga kanker yang lain. Cara hidup tersebut meliputi pola makan, aktivitas fisik, pengurangan konsumsi alkhohol dan menghindari rokok.

Kita semua butuh makan. Namun kita juga tahu tidak semua makanan memberi manfaat bagi tubuh kita. Karenanya, jika anda ingin meningkatkan kualitas hidup, yakinkan bahwa anda hidup denga pola makan yang sehat! Apa saja makanan sehat itu? Ini dia ringkasannya…

Makan makanan yang sehat, bukan berarti menghentikan semua menu favorit! Makan makanan yang sehat adalah berusaha mengkonsumsi alternative yang lebih sehat dan menghilangkan yang tidak diperlukan.

Untuk kesehatan payudara yang optimal, terdapat beberapa bahan makanan yang harus anda masukkan dalam menu makan sehari-hari.

Buncis merupakan makanan dengan kategori bergizi tinggi. Juga semua sayuran bertulang ampuh untuk mencegah kanker payudara. Berdasar penelitian, wanita yang mengkonsumsi buncis dua kali seminggu, risiko terkena kanker payudara berkurang 24%, dibandingkan dengan yang hanya seminggu sekali.

beans

Sayuran bertulang, seperti kubis, kembang kol dan brokoli merupakan makanan pilihan paling sip untuk kesehatan payudara. Sayuran tipe ini mengandung sulforaphane dan indole yang keduanya diketahui merupakan zat kimia hijau (phytochemical) paling ampuh sebagai anti kanker payudara. Sayuran bertulang ini lebih baik dimakan secara mentah atau dimasak sebentar saja, karena panas akan menghilangkan phytochemical yang terkandung.

Sayuran Bertulang (Cruciferous Vegetables)

Pilihan makanan lain yang lezat dan menyehatkan adalah jeruk. Buah favorit ini mengandung banyak folic acid, vitamin C, dan semua jenis phytochemical. Jeruk merupakan salah satu makanan alami yang ampuh melawan kanker payudara.

orange

Sayuran yang kaya carotenoid, seperti tomat, ubi jalar, wortel, bayam, dan cabai paprika juga merupakan makanan lezat dan menyehatkan. Kelompok sayuran ini ampuh melawan kanker karena kandungan zat warnanya yang disebut carotenoid. Masak sebentar sebelum disantap, agar carotenoid memberi manfaat optimal dalam tubuh kita.

vegie2

Semua makanan berbahan kedelai, seperti susu kedelai, tofu, tahu, dan tempe, juga kedelai panggang memiliki struktur gizi sebagai sumber isoflavon terbaik . Isoflavon merupakan estrogen yang terkadung dalam tanaman. Sejak diketahui bahwa isoflavon ampuh melindungi payudara dari efek karsinogenik , semua makanan dari kedelai menjadi pilihan makanan yang sehat.

soy-food

Vitamin D memiliki peran vital dalam melawan kanker payudara. Dan sejak kejadian kekurangan vitamin D banyak ditemukan, sumber makanan sehat bervitamin D banyak dicari. Ikan yang banyak mengandung minyak, seperti tuna, sardine, salmon, makarel secara alami mengandung banyak vitamin D dan asam lemak omega 3 yang diketahui penting untuk kesehatan payudara.

salmon-and-mackerel

Minyak zaitun asli diketahui sangat berguna bagi kesehatan payudara dan jantung. Sejak ditemukannya zat anti kanker di dalam munyak zaitun, minyak ini menjadi pilihan bijak saat kita memasak.

olive_oil_2

Buah berry banyak mengandung vitamin C, serat, juga flavonoid phytochemical. Yang hebat lagi dari buah berry adalah rendah kalori. Buah lezat ini mengadung zat anti kanker dan dapat dihidangkan dalam berbagi cara. Heemmm…

berries

Memang, buncis ataupun brokoli, mungkin tak selezat beef burger. Namun lebih sekedar rasa di lidah, akan lebih baik jika apa yang kita makan membuat kita sehat, panjang usia, dan awet muda. Amiiin…. :)

Lawan Breast Cancer dengan Olah Raga

woman-physical-trainer_nri0253

Rekan semua, melakukan aktifitas fisik lebih dari satu jam dalam seminggu di usia 30 tahun ke atas, diyakini dapat mengurangi risiko pertumbuhan sel kanker payudara pada kaum perempuan. Hasil riset ini diungkapkan pada pertemuan tahunan American College of Sports Medicine’s di Seattle.

Dalam riset tersebut, Lisa Sprod beserta rekannya dari University of Northern Colorado, Greeley, menanyakan kepada sekitar 4296 responden perempuan mengenai aktivitas fisik yang mereka lakukan selama masa hidupnya. Tim peneliti membagi responden ke dalam 4 tingkatan usia, yaitu 10-15 tahun, 15-30 tahun, 30-50 tahun dan 50 tahun ke atas.

Kemudian tim peneliti juga menanyakan berapa lama biasanya mereka melakukan olahraga, apakah kurang dari 60 menit, sekitar 60 menit atau lebih dari 60 menit.

Dari hasil riset ditemukan bahwa aktivitas perkembangan sel kanker payudara pada perempuan yang melakukan aktifitas fisik di usia antara 10-30 tahun, ternyata tidak terlalu terlihat perbedaanya. Namun pertumbuhan sel kanker tersebut secara signifikan berkurang pada perempuan yang aktif berolahraga di atas usia 30 tahun.

exercisewoman

Lebih lanjut tim peneliti mengungkapkan, pada kelompok perempuan berusia 30-50 tahun yang mengaku aktif berolahraga, pertumbuhan sel kanker payudara dapat diminimalisir dibandingkan dengan mereka yang jarang berolahraga.

swimmingwoman

Begitu pula dengan kelompok perempuan yang rajin melakukan aktivitas fisik lebih dari 60 menit saat usia mereka di atas usia 50 tahun. Risiko sel kanker berkembang hanya sedikit dialami perempuan berusia tersebut bila dibandingkan dengan perempuan yang melakukan aktivitas fisik kurang dari 60 menit setiap minggunya. Dengan kata lain dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan sel kanker akan berkurang pada perempuan yang rajin melakukan aktivitas fisik di atas usia 30 tahun.

yogawoman

“Pesan yang dapat disampaikan adalah bahwa melakukan aktifitas fisik di atas usia 30 tahun kemungkinan besar berperan dalam mengurangi risiko kanker payudara,” ungkap Lisa.

Nah rekan wanita, sesibuk apapun anda, luangkanlah waktu untuk berolah raga agar payudara anda beroleh kesempuranaan kesehatan.

Siiip lah…! :)