Tampilkan postingan dengan label nyeri payudara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label nyeri payudara. Tampilkan semua postingan

Selasa, 22 September 2009

Mastalgia atau Nyeri Payudara

ngelirik-ke-bawah

Apa itu mastalgia? Mastalgia adalah kondisi dimana payudara merasa nyeri. Sebenarnya mastalgia ini akrab dengan setiap wanita, karena selalu datang mengiringi waktu menstruasi. Berikut definisi, penyebab, diagnosa dan pengobatannya. Yuk, kita simak bersama….

DEFINISI
Mastalgia adalah nyeri payudara.
Nyeri payudara dibagi ke dalam 2 kelompok:
1.Mastalgia siklik : berhubungan dengan menstruasi
2.Mastalgia non-siklik : tidak berhubungan dengan menstruasi dan bisa berasal dari payudara maupun struktur di sekitar payudara (misalnya otot atau persendian).

PENYEBAB
Jenis mastalgia yang paling sering ditemukan adalah mastalgia siklik yang terjadi akibat perubahan hormonal.
Beberapa wanita merasakan nyeri payudara di sekitar masa ovulasi (pelepasan sel telur) yang terus berlanjut sampai masa menstruasi tiba.
Nyeri bisa hanya dirasakan di salah satu payudara atau bisa juga menjalar ke ketiak.

Nyeri pada mastalgia non-siklik biasanya terus menerus ada dan hanya pada lokasi tertentu di payudara. Penyebabnya bisa berupa:

  1. Cedera atau benturan pada payudara
  2. Nyeri artritik di dalam rongga dada dan leher yang menjalar ke payudara
  3. Kehamilan
  4. Menyusui
  5. Menjelang menopause
  6. Terapi estrogen
  7. Infeksi payudara
  8. Menjelang pubertas
  9. Obat-obatan (misalnya digitalis, aldomet, aldakton, anadrol dan klorpromazin)
  10. Alkoholik disertai kerusakan hati
  11. Zat tertentu di dalam makanan atau minuman (misalnya metilsantin yang terkandung di dalam kopi)
  12. Kanker payudara (tetapi tidak setiap nyeri pada payudara merupakan pertanda dari kanker payudara).

GEJALA
Payudara terasa nyeri atau nyeri timbul bila payudara ditekan.
Nyeri bisa dirasakan pada salah satu ataupun kedua payudara, nyerinya bisa menyebar atau terlokalisir.

DIAGNOSA
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik.
Jika pada pemeriksaan payudara ditemukan adanya benjolan, maka dilakukan pemeriksaan berikut:

  1. Mammogram
  2. USG payudara
  3. Biopsi jaringan payudara.

PENGOBATAN
Mastalgia siklik

  1. Diuretik (obat untuk mengeluarkan air seni)
  2. EPO (evening primrose oil, dosis 3 gram/hari)
  3. EPO mengandung asam lemak tak jenuh ganda dan bisa menormalkan kandungan asam lemak pada penderita mastalgia siklik.
  4. Pil KB
  5. Progesteron
  6. Tamoxifen
  7. Tamoxifen adalah suatu anti estrogen yang digunakan untuk mengobati atau mencegah kanker payudara. Obat ini efektif dalam mengurangi mastalgia.
  8. Viteks (Vitex agnus-castus, dosis 40 mg/hari)
  9. Viteks dapat menyeimbangkan kadar hormon pada penderita mastalgia siklik dan sindroma premenstruasi.
  10. Obat lainnya yang juga digunakan adalah danazol dan bromocriptine.

Pengobatan untuk mastalgia non-siklik tergantung kepada penyebabnya.
Cedera pada permukaan payudara yang menunjukkan adanya infeksi diobati dengan antibiotik.

Untuk kedua jenis mastalgia payudara ada tips yang dapat anda lakukan:

  1. Gunakan BH yang nyaman dan pas. Hal ini sangat penting jika penderita melakukan olah raga berat. BH yang pas bisa mengurangi nyeri secara drastis.
  2. Kurangi asupan lemak jenuh dan garam
  3. Vitamin E (400-800 unit/hari)
  4. Kurangi asupan kopi, teh dan coklat
  5. Obat pereda nyeri yang dijual bebas.

Kebanyakan nyeri bersifat ringan dan menghilang dengan sendirinya dalam waktu beberapa bulan atau tahun.

Sumber: medicacare.com

Nyeri Payudara? Bisa Jadi Bayi Salah Posisi!

breastfeeding_2

Rekan semua, seorang ibu dituntut untuk memberikan ASI eksklusif kepada buah hatinya. Tak hanya karena menyusui merupakan kodratnya sebagai seorang perempuan dan ibu, tetapi juga karena ASI penting sekali untuk pertumbuhan, kesehatan, dan perkembangan bayi. Jika timbul rasa nyeri, atur posisi bayi. Apa saja tanda posisi bayi telah benar? Ini dia tulisan ringkasnya…

ASI (air susu ibu) merupakan makanan bayi yang terbaik, terutama pada bayi yang berumur kurang dari enam bulan. Air susu ibu mengandung semua zat gizi dan cairan yang dibutuhkan untuk memenuhi seluruh gizi bayi pada enam bulan pertama kehidupannya.

Dalam ASI ada karbohidrat, vitamin, mineral, lemak ikatan panjang, protein, dan zat-zat atau cairan hidup seperti hormon pertumbuhan, enzim penyerapan, serta antibodi. Karena itulah, seorang ibu diharuskan untuk selalu memberikan ASI.

“Rekomendasi WHO, menyusui eksklusif (betul-betul hanya ASI tanpa air atau apa pun) selama 6 bulan penuh. Setelah itu, mulai harus ada makanan dan dilanjutkan ASI hingga 2 tahun atau lebih,” kata dr Dian Nurcahyati Basuki, IBCLC dari Sentra Laktasi Indonesia (SELASI), Jl. Tebet Utara 1F No.12, Jakarta Selatan.

Faktor Penyebab

Masalahnya, sering kali timbul rasa nyeri pada payudara pada saat menyusui. Mungkin karena rasa nyeri ini pulalah banyak ibu yang menolak menyusui bayinya sesering mungkin. Bahkan ada yang memilih memberikan dot. Pertanyaannya, mengapa bisa timbul rasa nyeri? Menurut dr Dian, ada dua alasan mengapa sering timbul rasa nyeri pada saat menyusui, yaitu posisi melekatnya bayi yang salah dan posisi bayi yang tidak benar pada saat menyusui.

Pertama, posisi melekatnya bayi yang hendak disusui. “Tanda pelekatan yang benar yaitu pertama, posisi sebagian besar areola atau kalang payudara (area hitam puting susu, red) dan jaringan payudara di bawahnya berada dalam mulut bayi. Paling tidak mulut di bagian bawah lebih banyak daripada bagian atas,” sambung dr Dian.

Kedua, bibir bayi harus cukup lebar. Bila dilihat dari samping, mulut bayi menganga lebih dari 90 derajat dan bibir bayi terlihat “dower”. Ketiga, mulut bayi juga terbuka cukup lebar. Keempat, dagu bayi menempel atau melekat ke payudara ibu. “Dan kelima, pipi bayi terlihat menggembung karena bayi menyusu pada payudara dan bukan pada puting susu,” terang dr Dian.

Selain posisi pelekatan yang tidak benar, rasa nyeri timbul juga karena posisi bayi yang tidak benar pada saat menyusui. Perlu diketahui, posisi yang baik pada saat menyusui menjadi patokan. Pertama, posisi kepala, telinga, badan, dan lengan bayi harus lurus dan memungkinkan bayi menyusu lebih lama. Wajah bayi menghadap payudara dari arah bawah dan hidungnya berhadapan dengan puting. Prinsipnya, chin to breats, chest to chest (dagu ke payudara, dada ke dada).

Selanjutnya, tubuh bayi dekat dengan ibu. Badan bayi harus ditopang sepenuhnya, jika bayi baru lahir. Posisi kepala tidak pas di siku, tapi di pertengahan lengan. “Posisi ibu memegang bayi dengan posisi yang cukup lama dan benar agar bayi tidak pegal dan pelekatan yang tadi menjadi tidak benar,” lanjut dokter Dian.

Sekali lagi, posisi bayi yang benar adalah dari arah bawah, lalu hidung bayi berhadapan dengan puting susu. Dagu bayi merupakan bagian pertama yang melekat pada payudara sebagai titik pertemuan. Setelah itu, puting payudara diarahkan ke atas, yaitu ke langit-langit bayi dengan puting sampai di daerah yang tidak ada tulangnya, di antara tekak dan pangkal lidah yang lembut. Puting susu hanya sepertiga atau seperempat dari bagian “dot panjang” yang terbentuk dari jaringan payudara.

Pengurangan Rasa Sakit

Ada beberapa cara mengurangi rasa nyeri pada payudara. Cara pertama adalah harus tetap menyusui, sekalipun terasa nyeri. Apabila rasa nyeri itu mengganggu, peras dulu susu dari payudara yang sakit. Jangan sampai payudara itu bengkak dan akhirnya radang karena ada ASI yang tidak dikeluarkan. Jadi, harus rutin dikosongkan.

Jika kemudian terjadi lecet ringan pada payudara, tidak apa-apa. ASI itu sendiri bisa mempercepat penyembuhan. Caranya, keluarkan sedikit dan oleskan ke sekitar puting. “Atau bisa juga dengan memberikan kompres pada payudara yang nyeri,” imbuh dr Dian.

Apabila terjadi kasus yang lebih berat, maka perlu ada konsultasi laktasi. Misalnya, pada kasus anatomi mulut seperti bayi dengan lidah menjulur bentuk hati karena ujungnya tidak bisa keluar. Kondisi tersebut menyebabkan gangguan dan lecet. “Kasus seperti itu membutuhkan bantuan konsultan,” tegas dr Dian Rahmi.

breast-feeding-position

Jangan nyeri lagi ya, maa…!

Sumber :
http://selasi.net